Headlines
Loading...
Tugas dan Fungsi Penyuluh Sebagai Garda Terdepan Kementerian Agama dalam Pelaksanaan Moderasi Beragama

Tugas dan Fungsi Penyuluh Sebagai Garda Terdepan Kementerian Agama dalam Pelaksanaan Moderasi Beragama

BONDOWOSO, Zonapostindonesia.com - Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, kembali gelar Penguatan Moderasi Beragama bagi Penyuluh Agama Islam di Hotel Ijen View Tamansari Bondowoso, kemarin. Rabu, (25/05/2022)

Kegiatan ini dibuka oleh Drs. H. Solihul Kirom, MP. MM., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, dengan jumlah peserta seluruh Penyuluh Agama Islam di kabupaten Bondowoso berjumlah 184 orang Non PNS dan 5 orang PNS.

Dalam sambutannya H. Astono, M.H.I., Kasi Bimas Islam menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para Penyuluh Agama Islam tentang moderasi beragama, guna mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi penyuluh sebagai garda terdepan Kementerian Agama.

“Pelaksanaan moderasi beragama di tahun 2022 ini tentunya berbeda dengan tahun 2021, tujuannya untuk menguatkan pengetahuan dan pemahaman para peserta tentang indikator moderasi beragama dan nilai-nilai moderasi beragama,” ungkapnya sambil tersenyum

Lanjut Ia “Hal ini sangat penting dilakukan untuk mendukung tugas dan fungsi penyuluh, yaitu membimbing umat Rasulullah Saw dalam menjalankan ajaran agama dan menyampaikan arti moderasi beragama kepada masyarakat untuk meningkatkan kerukunan umat beragama.” tambahnya

H. Astono juga berharap kepada seluruh Penyuluh Agama Islam sebagai garda terdepan jajaran Kementerian Agama yang langsung berhadapan dengan masyarakat, untuk terus berjuang menyelamatkan dan membangun bangsa, sehingga mampu melahirkan umat Islam yang berkualitas dan menjadi kebanggaan bangsa dan negara.

“Penyuluh bukan hanya penceramah, tapi sebagai agen perubahan (agent of change) harus mampu berperan sebagai pusat untuk mengadakan perubahan kearah yang lebih baik di segala bidang, kearah kemajuan dan perubahan dari yang negatif atau pasif menjadi positif atau aktif serta menjadi motivator utama dalam membangun bangsa.” harapnya

Usai acara pembukaan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ahmad Badrus Sholihin, M.A. dan Dr. Wildani Hefni, M.A. dari Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Khas Jember.

Ahmad Badrus Sholihin, M.A., menyampaikan adanya pemahaman dan perilaku beragama yang akomodatif terhadap budaya lokal atau konteks Indonesia yang multi-kultural dan multi-agama perlu adanya untuk mempertemukan asumsi tentang moderasi beragama melalui teori ‘The Map Is Not The Territory dan Ladder of Inference’, karena kata kunci moderasi beragama memiliki makna tafsiran dan definisi yang berbeda.

“Menyadari persoalan yang muncul tentang berbagai konflik dan permasalahan yang mengatasnamakan pemecahbelahan atas nama agama, maka perlu adanya gagasan pemikiran melalui moderasi beragama dalam merajut persatuan. Untuk itu pemaknaan moderasi beragama harus mampu memberikan solusi yang genuine dan mampu menjadi penyeimbang persoalan yang muncul di tengah masyarakat dengan memperkaya peta kita (sesuatu yang terjadi di luar kepala dan di dalam kepala) dengan terus belajar dan menambah pengetahuan, sehingga pada akhirnya kita mampu memberikan kesimpulan yang lebih baik.” jelasnya

Ahmad Badrus Sholihin, M.A., juga menyampaikan materi tentang indikator moderasi beragama, muatan pesan keagamaan dalam moderasi beragama dan kata-kata kunci moderasi beragama.

Sementara itu Dr. Wildani Hefni, M.A., dalam penyampaian materi menjelaskan tentang menyelami persoalan dalam sistem sosial dengan teori ‘Analisis Gunung Es dan Proses U’. Hal ini dilakukan untuk menganalisa dan mengkaji permasalahan keagamaan yang terjadi untuk dicarikan solusi agar permasalahan dapat terurai.

“Dengan teori ini kita dapat menganalisa terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat, semakin dalam lapisan yang kita analisis dan kemudian kita intervensi, maka semakin besar leverage (daya ungkit) terhadap perubahan struktural dan sistemik, yang berujung pada perubahan fenomena yang berkelanjutan.” ujarnya

Untuk memperdalam teori, peserta penguatan moderasi beragama, diberikan tugas untuk menganalisa fenomena yang terjadi di masyarakat dengan model scenario thinking, sebagai bekal untuk bertugas secara maksimal sebagai penyuluh agama Islam.

Kegiatan Penguatan Moderasi Beragama ditutup oleh H. Mudassir, SH. MM., Kasubag TU Kemenag Bondowoso. Ia berharap penyuluh agama Islam mampu menjadi pelopor moderasi beragama, sehingga harus paham dan bisa menyampaikan arti moderasi beragama kepada masyarakat serta menjadi media informasi program keagamaan Kemenag sebagai wujud nyata membumikan pesan agama yang rahmatan lil alamin.

PEWARTA: ALI WAFI

#Bondowoso #ModerasiBeragama #PenyuluhAgamaIslam #FKPAI #Kemenag #Penais #BimasIslam

0 Comments: