Headlines
Loading...
Mantan LMDH, Keluhkan Pengelolaan Lahan Hutan Lindung Milik Perhutani

Mantan LMDH, Keluhkan Pengelolaan Lahan Hutan Lindung Milik Perhutani

SITUBONDO, Zonapostindonesia.com - Mantan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan juga Pemerhati Lingkungan Desa Tambak Ukir Kecamatan Kendit, H. Matrosi Sanjoko mengeluhkan pengelolaan lahan hutan lindung milik perhutani yang ada di Desa Tambak Ukir Kecamatan Kendit, Pasalnya lahan hutan Lindung tersebut sekarang sudah menjadi lahan pertanian. Rabu (6/4/2022).

Menurut, H. Matrosi bahwa lahan hutan lindung yang ada di desa Tambak Ukir Kecamatan Mlandingan yang semula tumbuh subur sebagai hutan lindung, namun saat ini sudah dijadikan lahan pertanian oleh masyarakat.

“Walaupun sudah ada larangan yang sudah tertulis pada stiker yang dipasang oleh Perhutani, namun masyarakat masih tetap tidak menghiraukan larangan tersebut, dan anehnya dari pihak Perhutani sendiri tidak pernah melakukan tindakan apapun, padahal dalam aturan sudah jelas lahan hutan lindung milik Perhutani tidak boleh dijadikan lahan pertanian, kalau ini terus dibiarkan akan mendatangkan berbagai macam bencana seperti banjir dan tanah longsor, yang dapat merugikan seluruh masyarakat,” Ungkap H. Matrosi.

Menurutnya, Banjir ini akan terjadi akibat berkurangnya jumlah pohon yang dapat menyerap dan menahan air hujan didalam tanah. Hutan lindung berperan penting dalam siklus air suatu daerah. Hutan lindung ini menambah kelembaban lokal melalui transpirasi (proses pelepasan air dari tubuh tumbuhan) yang dapat menaikkan curah hujan lokal.

“Jika hutan gundul, maka tidak ada transpirasi yang terjadi. Hal tersebut membuat curah hujan berkurang. Penurunan curah hujan dapat menyebabkan kekeringan yang berakibat fatal bagi tumbuhan, hewan, dan juga manusia,” Ungkapnya

Siklus air yang terganggu tersebut membuat hujan semakin jarang turun. Akibatnya volume aliran sungai juga akan berkurang. Sehingga petani dan peternak akan sulit mendapatkan air bagi tumbuhan serta hewan ternaknya.

Maka kekeringan tidak hanya berpengaruh pada hewan dan tumbuhan, namun juga pasokan makanan manusia. Kekeringan yang diakibatkan terganggunya siklus air akan membuat wilayah hutan gersang dan kering. Sinar matahari akan menjadi sangat terik, dan hutan menjadi rentan kebakaran.

 

“Dalam kondisi kering dan panas tersebut, kebakaran bisa terjadi sangat besar, sangat merusak, dan juga sulit dihentikan.Hutan gundul artinya banyak flora yang mati dan fauna kehilangan habitatnya. Padahal, mayoritas hewan dan tumbuhan hidup di hutan. Sehingga hutan gundul akan menyebabkan banyak flora dan fauna mati,” Terang H. Matrozi

“Tidak Cuma itu saja yang disampaikan H. Matrozi Sanjoko, menurutnya ketika ada pencurian kayu hutan di desanya walaupun sudah tertangkap basah, namun pihak Perhutani tidak pernah mengambil tindakan tegas justru hanya diselesaikan secara kekeluargaan saja, padahal kayu yang diambil itu jumlahnya  tidak sedikit yakni ratusan bahkan sampai seribu, yang disayangkan lagi atasannya juga tidak pernah menegur dan menindak secara tegas,” Tegas H. Matrozi Sanjoko

Dengan banyaknya persoalan di lahan hutan lindung, kami berharap kepada pihak Asper, Adm dan Kementerian Kehutanan agar turun ke lokasi, supaya bisa memastikan dan mengetahui persoalan yang terjadi di Hutan Lindung Desa Tambak Ukir Kecamatan Kendit, dan apa yang saya ucapkan ini akan saya pertanggung jawabkan semuanya, ini saya lakukan bukan untuk kepentingan pribadi tapi demi keselamatan masyarakat Situbondo semuanya.

Mantri Hutan Desa Tambak Ukir, Kartoyo saat ditemui di rumah dinasnya mengatakan bahwa “kami sudah berulang kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak bercocok tanam pertanian di hutan lindung karena ini jelas jelas melanggar aturan perundang undangan sebagaimana yang tertuang dalam UU nomor 41 tahun 1999 pasal 50 ayat 3 huruf B, C, D dan E yang bunyinya, Dilarang mengerjakan, merambah kawasan hutan serta membakar dan menebang pohon dalam kawasan hutan. Sesuai pasal 70 Diancam pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 5 miliar,” Kata Kartoyo

Menurutnya, sudah berupaya  lewat Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Tambak Ukir, H. Taufik. Dia merupakan satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat desa yang berada didalam atau di sekitar hutan untuk mengatur dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi terhadap hutan dalam konteks sosial, ekonomi, politik dan budaya, untuk bisa menyadarkan masyarakat agar tidak bercocok tanam pertanian di lahan Hutan lindung, namun sampai sekarang masih belum berhasil.

LMDH Desa Tambak Ukir yang saat ini diketuai H. Taufik adalah merupakan lembaga masyarakat desa hutan yang dipercaya oleh masyarakat Desa Tambak Ukir  untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan hidup masyarakat di sekitar hutan, pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya hutan (SDH) serta memperjuangkan (advokasi) hak-hak masyarakat sekitar hutan terhadap garap, akses informasi dan akses kebijakan SDA yang ada, dan hasilnya sudah dinikmati oleh masyarakat sekitar hutan ketika buahnya sudah panen.

“Kalau saya didesak untuk menindak masyarakat yang melakukan pelanggaran secara hukum, kalau sendirian bukannya tidak berani karena kami ini sudah bermitra dengan LMDH Desa Tambak ukir secara otomatis biar LMDH dulu yang melakukan pendekatan kepada masyarakat agar tidak lagi bercocok tanam di lahan Hutan Lindung, kalau memang terpaksa harus ditindak  ayo dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pihak Kepolisian,” Pungkas Kartoyo. (SP)

0 Comments: