Headlines
Loading...
MURTAD DAN MUALAF = PINDAH AGAMA HAK ASASI MANUSIA

MURTAD DAN MUALAF = PINDAH AGAMA HAK ASASI MANUSIA

OLEH : AYOPRI AL JUFRI*

Dalam berkeyakinan dan beragama tiap manusia tidak ada paksaan, itu bergantung jalan hidup dan jalan keyakinan masing-masing, bagi islam Itu disebut Hidayah jika mualaf, tidak mendapat hidayah jika murtad.

Secara etimologi, Murtad bersumber dari bahasa Arab yang berarti "keluar".

Menurut Islam, Dari segi maksud bermaksud meninggalkan atau keluar dari agama Islam dan memeluk agama selain Islam. Murtad dapat melewati atau itikad, kepercayaan dan keyakinan hati.

Murtad dalam Kristen, Kemurtadan dalam kekristenan mengacu pada Kekristenan oleh seseorang yang sebelumnya yaitu seorang pengikut perjuangan Yesus . Kemurtadan bersumber dari Istilah Yunani apostasia yang berarti pembelotan atau pemberontakan. Istilah ini juga digambarkan sebagai "sengaja, atau memberontak melawan kebenaran Kristen. Murtad yaitu telah menjadi Kristen dengan orang yang Kristus.

Murtad kategoris menggambarkan mereka yang sadar dan sadar meninggalkan iman mereka kepada saya. perjanjian Allah, dalam Yesus Kristus. Peristiwa Yudas Iskariot ketika bersekongkol dan memberi tahu tempat Yesus dan murid-muridnya kepada pasukan Romawi dan orang Yahudi yang sudah diramalkan oleh Yesus Kristus juga menjadi ikon kemurtadan dalam Kekristenan.

Dalam pandangan umum, murtad juga didefinisikan sebagai melepaskan iman Kristen demi nafsu, keinginan, kepuasan, ambisi, dan kekuasaan duniawi yang tidak setia mengikut perjuangan Yesus.

Jadi dapat dipahami secara arti umum, bahwa kata Murtad adalah tindakan atau perbuatan seseorang mengganti keimanan yang ia jalani kepada iman atau agama lain yang dia yakini yang baru.

Adapun kata mualaf adalah sebutan bagi orang non-muslim yang mempunyai harapan masuk agama Islam atau orang yang baru masuk Islam. Pada Surah At-Taubah Ayat 60 disebutkan bahwa para mualaf termasuk orang-orang yang berhak menerima zakat.

 إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلۡفُقَرَاۤءِ وَٱلۡمَسَـٰكِینِ وَٱلۡعَـٰمِلِینَ عَلَیۡهَا وَٱلۡمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمۡ وَفِی ٱلرِّقَابِ وَٱلۡغَـٰرِمِینَ وَفِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِۖ فَرِیضَةٌ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیم

Artinya: "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Attaubah : 60)

Konteks Indonesia, kata murtad menggunakan bahasa lebih halus, Mengganti keyakinan disebut "Pindah Agama".

Adapun dasar hukum perpindahan agama. Perpindahan agama seseorang ke agama lain merupakan hak asasi manusia. Hal ini sesuai UUD 45 Pasal 28E. Pada ayat (1) dinyatakan bahwa setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. Dan ayat (2) setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Ada 6 Agama yang sah di Indonesia, dimana masing-masing pemeluknya mendapatkan hak dan perlindungan yang sama dari negara. Berikut daftar Agama beserta nama hari besarnya.

1. Islam, Mayoritas agama di Indonesia beragama Islam. Berdasarkan perhitungan, pemeluk agama Islam berjumlah 87,2% atau lebih dari 207 juta orang. Hari besar agama Islam adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan, tempat ibadahnya merupakan masjid.

2. Protestan, Protestan muncul setelah protes Marthin Luther pada tahun 1517. Di Indonesia sendiri, pemeluk agama Protestan ada sebanyak 6,9% dengan kitab suci bernama Al-Kitab atau Injil.

3. Katolik, Katolik merupakan salah satu agama di Indonesia yang denominasi dalam agama Kristen. Agama ini muncul di Indonesia saat bangsa Portugis sampai di kepulauan Maluku. Orang Maluku pun menjadi orang beragama Katolik pertama di Indonesia. Hari besar agama di Indonesia ini adalah Natal atau Kelahiran Yesus Kristus.

4. Hindu, Agama Hindu saat ini memiliki jumlah 1,7% dengan pulau Bali sebagai pemilik penganut agama Hindu terbesar di Indonesia. Agama Hindu selalu melakukan persembahyangan di pura. Penganut agama Hindu memiliki kitab suci bernama Weda. Untuk hari raya Umat Hindu, adalah Nyepi, Kuningan, dan Galungan.

5. Buddha, Kitab suci agama Buddha adalah Tripitaka. Agama Buddha awalnya berasal dari India dan menjadi salah satu agama tertua di dunia serta Indonesia. Saat ini, jumlah pemeluk agama Buddha di Indonesia mencapai 0,7%. Para penganut Buddha selalu bersembahyang ke Vihara saat perayaan upacara keagamaan, seperti Waisak.

6. Khonghucu, Urutan agama di Indonesia yang terakhir adalah Khonghucu. Agama ini berasal dari orang-orang Tionghoa yang berdatangan ke Indonesia. Saat ini agama Khonghucu di Indonesia berjumlah 0,05% dengan kitab suci bernama Shishu Wujing.

Perbedaan agama di Indonesia, berupa kitab suci dan hari besar atau upacara keagamaan yang dilakukan. Berdasarkan Pasal 28E ayat (1) UUD 1945, setiap warga negara bebas memeluk agama dan beribadah sesuai agamanya.

Negara yang menganut asas Pancasila dan Bhinneka tunggal Ika, mengedepankan kerukunan, sehingga adanya enam agama yang sah bisa hidup berdampingan tanpa adanya saling mengunggulkan, walaupun dari segi populasi memang ada persentase masing-masing. Namun ikatan kenegaraan dan cinta tanah air, atau dikenal persaudaraan antar manusia, persaudaraan antar bangsa sangat dijunjung tinggi, sehingga sampai sekarang Indonesia utuh dalam satu negara.

Peristiwa perpindahan Agama oleh seseorang bukan lagi sesuatu yang baru, sudah banyak terjadi antar pemeluk agama, ada yang dari Kisten ke Islam, ada yang dari Islam ke Kristen, bahkan baru-baru ini ada yang dari islam ke Hindu, ataupun perpindahan dari agama satu ke yang lainnya dari enam agama yang ada.

Oleh karena itu, perpindahan agama yang terjadi janganlah jadikan sebuah gesekan sosial yang bisa mengakibatkan ada jarak antar umat beragama. Bagi Islam tidak ada paksaan memeluk agamanya, sebagaimana tercantum pada ayat berikut :

لَاۤ إِكۡرَاهَ فِی ٱلدِّینِۖ قَد تَّبَیَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَیِّۚ فَمَن یَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَیُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِیعٌ عَلِیمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah :256)

Selain ayat diatas, dalam surat Al Kafirun ayat 1-6 telah ditegaskan bahwa :

قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ (١) لَاۤ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ (٢) وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ(٣) وَلَاۤ أَنَا۠ عَابِدٌمَّا عَبَدتُّمۡ (٤) وَلَاۤ أَنتُمۡ عَـٰبِدُونَ مَاۤ أَعۡبُدُ(٥) لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ(٦)

Artinya: Katakanlah: “Hai orang-orang kafir (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2) Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah (3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah (5) Untukmu agamamu, dan untukku lah, agamaku.” (Qs. Al-Kafirun : 1-6)

Aturan agama dan aturan negara telah jelas, bahwa memeluk agama adalah sebuah hak asasi, tidak boleh ada unsur paksaan, walaupun masing-masing agama ada hak juga menyampaikan isi pesan agamanya, agar manusia sadar mana kepada jalan yang benar, Seperti dalam islam ada kegiatan Dakwah, adapun dakwah juga tidak boleh ada cacian kepada agama lain, kita menyampaikan yang sesuai dalam ajaran agama, telah jelas mana yang hak mana yang batil, oleh karena itu tidak perlu gaduh atau heboh jika ada orang pindah agama, karena itu jalan hidupnya masing-masing, selama tidak ada saling mengganggu.

Kita manusia tidak punya hak memaksakan kehendak, apalagi memaksakan keyakinan, keyakinan yang dihasilkan karena keterpaksaan justru sulit adanya ikhlas dalam menjalankannya. Biarlah berjalan sesuai sunnatullah, namun bagi pemeluk agama punya tugas menyampaikan kebaikan, karena itulah pesan agama yang paling inti, agar ada perbedaan orang beragama dan orang yang tidak beragama, selama dia memiliki agama pasti dalam hatinya ada rasa takut pada tuhannya, dia merasa diawasi oleh tuhannya, tidak heran dalam sumpah jabatan pejabat enyesuaikan dengan tradisi agama masing-masing, itu menunjukkan pentingnya agama dalam segala tingkah laku manusia.

*Penulis Alumni STAIN Jember (UIN KHAS Jember), Aktif di Lembaga Bantuan Hukum Adhikara Pancasila Indonesia (LBH API), dan Tim Hukum Media Berita Nasional Zona Post Indonesia.

0 Comments: