Headlines
Loading...

OLEH: MOH. GHAFUR HASBULLAH*

Pandemi Covid-19 sudah hampir memasuki tahun ke 3 dari awal kedatangannya, sebagaimana penulis lansir dari laman detik.news.com. Kasus Indonesia pertama kali terkonfirmasi COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu.

Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari 2020.

Pasca ditemukannya warga yang teridentifikasi corona, sedikit demi sedikit, penyakit tersebut kian menyebar. Banyak yang tertular, sebaran kasus terinfeksi corona menyeluruh hingga ke seluruh Nusantara. Dan dampaknya, banyak di antara mereka yang harus di rawat di Rumah Sakit, ada yang di isolasikan, bahkan tidak sedikit pula meninggal.

Mereka yang terpapar covid - 19 mulai dari warga biasa, hingga para tenaga medis sendiri, para anak-anak remaja, orang tua. Tercatat, hingga saat ini, infeksi virus corona masih terus terjadi, Berdasarkan data yang kami ambil dari kompas. com. Ada 3.409.658 kasus Covid-19 di Indonesia sejak pertama kali kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. Sementara itu, hingga saat ini masih ada 545.447 kasus aktif Covid-19 atau pasien yang masih dirawat atau menjalani isolasi mandiri.

Berbagai upaya pemerintah untuk menekan angka penambahan penularan terus digencarkan, dimulai dengan mematuhi protokol kesehatan dengan 5 M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas, dan menjauhi kerumunan), pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), dan terakhir adalah upaya pemerintah dengan mendatangkan vaksin.

Dalam kacamata agama, pandemi atau wabah merupakan suatu perkara yang biasa, tidak perlu di dramatisir atau di besar-besarkan hingga memberi dampak ketakutan pada masyarakat awam. Oleh karenanya, sikap kita dalam menghadapi pandemi tersebut ialah dengan bersandar pada Allah, dan mengikuti petunjuk Rasulullah, beliau bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu," (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, mereka yang meninggal akibat pandemi di statuskan sebagai mati syahid, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Badz al-Maun Fi Fadhilat At-Thaun, disana dijelaskan bahwa seseorang yang terpapar tahun atau wabah, lalu dia meninggal, maka dia meninggal dalam keadaan syahid. Namun, menurut anggota komisi fatwa MUI, KH Mukti Ali Qusyairi, beliau menerangkan, dalam hal ini, seseorang yang bisa dikatakan meninggal dalam keadaan syahid atau tidaknya, dilihat dari perilakunya dalam menyikapi wabah. Bagaimanakah sikap kita di saat terjadi pandemi ?

Pandemi yang sedang terjadi saat ini bisa di istilahkan dengan musibah umum, siapapun bisa terinfeksi. Akan tetapi, bukan berarti harus berpangku diri tanpa usaha terhindar darinya. Jadi, langkah yang harus diambil ialah peranan dalam pencegahan semaksimal mungkin, baik usaha dhohir maupun batin.

Dalam hal ini, pemerintah sudah benar, dengan berbagai upaya pengendalian penyebaran covid- 19, sebagaimana penulis paparkan di atas. Dari sekian ikhtiar pemerintah, mungkin yang bisa dianggap berhasil adalah adanya vaksin, karena semenjak diberlakukan vaksinasi massal, angka penurunan gejala covid - 19 mulai nampak.

Vaksin Sebagai Bentuk Taat Agama dan Pemerintah

Sejak pertama kali didatangkannya vaksin, komentar pro dan kontra tentang vaksin selalu ada. Yang menolak memberikan alasan buang-buang anggaran, sementara yang setuju karena vaksin dianggap perlu. Tidak sampai di situ, masyarakat awam pada mulanya enggan melakukan vaksin, hal ini dipicu kabar berita berbagai efek negatif setelah vaksin, seperti kelumpuhan, kejang-kejang, dan sebagian meninggal dunia.

Memandang latar belakang perbedaan cara pandang tentang vaksin, ada baiknya penulis memaparkan kemaslahatan ikut program vaksin diri. Pasalnya, masih banyak masyarakat awam yang hingga saat ini merasa tidak perlu dirinya di suntik vaksin.

Pada dasarnya, semua yang terjadi pada manusia merupakan takdir yang sudah digariskan, dan tidak bisa di ubah lagi. Sebagaimana ungkapan Ibnu Athoillah al-Sakandari dalam kitab "Hikam",

"Bagaimanapun kuatnya keinginanmu, (Itu) tidak akan merubah tirai takdir yang sudah ditentukan"

Terkait hal ini, ialah kasus pandemi saat ini. Bagaimanapun juga manusia harus menerima, namun juga haruslah berupaya untuk menghindarinya, ialah salah satunya ikut vaksin. Mengapa harus vaksin ?

Berbagai upaya pencegahan sudah dilalui, akan tetapi, semua itu berimbas pada ekonomi masyarakat. Misal aturan PSBB dan PPKM, tidak sedikit para usahawan yang harus rela gulung tikar akibat penerapan tersebut. Berbeda dengan vaksin, disamping sudah jelas halal, pun juga gratis dan pengendalian penularan covid terlihat berhasil.

Selanjutnya, mengikuti program vaksinasi adalah bentuk taat aturan agama dan pemerintah. Hal ini seperti di singgung dalam al-Quran surat An-Nisa ayat 59, "Taatilah Allah, Rasul dan Pemimpin diantara Kamu."

Sedangkan sebagian ada yang beranggapan bahwa efek dari vaksin adalah kelumpuhan ataupun kematian, itu tidak dapat dibenarkan. Mengapa demikian ? Sebagaimana yang penulis alami, ternyata, siapapun yang hendak di vaksin, haruslah melalui beberapa tahapan pemeriksaan, apakah yang bersangkutan termasuk orang bisa disuntik vaksin atau tidak. Oleh karenanya, ketika ada human error pasca vaksin, pastilah ada salah satu syarat yang di abaikan, misalnya darahnya dalam kondisi naik.

Dalam kaidah fiqh di katakan, "Menolak keburukan lebih diprioritaskan daripada mempertahankan kebaikan ". Dalam hal ini ialah suntik vaksin, mereka yang sudah di vaksin jauh lebih aman tertular atau menularkan daripad mereka yang belum vaksin. Karena tujuan vaksin sendiri, selain menghambat laju penularan covid 19, juga memberikan daya tahan tumbuh dari ancaman virus lainnya. Selaras dengan kaidah di atas, Allah juga menegaskan dalam surat Al-Baqarah : 195 yang artinya,

"Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Dengan mengikuti vaksin, kita berupaya mencegah diri dari kemunkinan tertular atau menularkan penyakit yang sudah banyak mengantarkan manusia kepada Sang Maha Pencipta. Harapan besarnya, program vaksinasi yang di galakkan pemerintah saat ini, semoga bisa menjadikan perantara hilangnya pandemi secara total, baik di bumi Nusantara maupun di dunia. Amin.

*Penulis : Alumnus PP. Lirboyo - Kediri tahun 2012.
Aktif sebagai pengajar Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren Darul Fikri, Pondok Pesantren Nurul Dhalam Kecamatan Wringin Bondowoso, dan sebagai pengusaha di bidang kerajinan “Tirai Bambu”.

0 Comments: