Headlines
Loading...
Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI, Dr. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I, Berikan Arahan dan Pembinaan Kepada Penyuluh Agama Islam Bondowoso di Hotel Grand Padis

Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI, Dr. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I, Berikan Arahan dan Pembinaan Kepada Penyuluh Agama Islam Bondowoso di Hotel Grand Padis

BONDOWOSO - Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bondowoso, gelar kegiatan Pembinaan Penyuluh Agama Islam dengan menghadirkan Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI, Dr. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I, di hotel Grand Padis Bondowoso. Jum'at, (12/11/2021)

Kegiatan tersebut mengambil tema ‘Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan’ yang dihadiri oleh Drs. H. Solihul Kirom, MP. MM., Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bondowoso didampingi Kasi Bimas Islam, H. Astono, Kepala KUA Se Kabupaten Bondowoso, dan seluruh Penyuluh Agama Islam PNS dan Non PNS Kabupaten Bondowoso.


Foto: Momen Menyanyikan Lagu Indonesia Raya 

Dalam sambutannya H. Astono selaku Kasi Bimas Islam melaporkan bahwa jumlah penyuluh agama Islam di kabupaten Bondowoso berjumlah 184 Orang (105 orang sudah berpendidikan S.1, 12 orang berpendidikan S.2, dan selebihnya 67 orang belum S.1).

“Mudah-mudahan bapak Direktur bisa memperjuangkan penyuluh agama Islam yang belum S.1 untuk mendapatkan beasiswa, karena penyuluh kerja siang dan malam tanpa mengenal waktu.” jelasnya


Foto: Momen Menyayikan Lagu Mars Penyuluh Agama Islam 

Beliau juga menyampaikan rasa bangga kepada para penyuluh agama Islam Bondowoso, karena sudah punya ruang penyuluh sendiri yang tertata rapi, indah dan bersih dengan biaya mandiri tanpa adanya perintah. Untuk menghargai hal tersebut Bimas Islam Bondowoso akan mengadakan lomba kreasi ruang penyuluh yang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2021.

“Ini sungguh luar biasa, seluruh penyuluh di kabupaten Bondowoso sudah memiliki ruang penyuluh sendiri dan dindingnya sudah dihiasi dengan wallpaper dengan biaya mandiri tanpa adanya perintah. Sehingga di bulan Desember ini kami akan mengadakan lomba kreasi ruang penyuluh, dalam rangka untuk menghargai kreasi penyuluh dan mewujudkan budaya indah, rapi dan bersih.” tuturnya

Lanjut beliau “Kami di Bondowoso mengambil kebijakan bahwa penyuluh agama Islam tidak hanya berceramah tapi melakukan aksi pendekatan personal, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw., untuk melakukan pendekatan silaturrahim, sehingga keberadaan penyuluh dicintai oleh masyarakat.” tambahnya


Foto: Kondisi Penyuluh Ketika Menerima Arahan dan Pembinaan 

Sementara itu Drs. H. Solihul Kirom, MP. MM., Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bondowoso menyampaikan hadirnya Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI di Bondowoso dapat memberikan pengarahan dan pembinaan kepada penyuluh agar lebih baik dalam bekerja dan melaksanakan kewajiban.

“Kedatangan Bapak merupakan berkah bagi kami semua, dengan harapan kami semua mendapatkan pengarahan dan pembinaan, agar kami lebih baik lagi dalam bekerja dan melaksanakan kewajiban.” harapnya


Foto: Kondisi Penyuluh Ketika Menerima Arahan dan Pembinaan  

Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI, Dr. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I, dalam pengarahan dan pembinaannya kepada penyuluh, menyampaikan 3 hal penting untuk diketahui.

Pertama beliau menyampaikan bahwa penyuluh agama Islam harus bebas dari kelompok radikal. Selain itu beliau berharap penyuluh agama Islam di bondowoso harus aktif di media sosial sebagai media syiar keagamaan, sehingga penyuluh di bondowoso bisa dikenal oleh kementerian pusat dan masyarakat luas.

“Ada beberapa wilayah provinsi, penyuluh yang terpapar radikal dan terpaksa harus dilakukan deteksi ulang, diantaranya provinsi Jawa Barat, Banten, DKI, Padang, Makasar, Palu dan Nusa Tenggara Barat, tapi alhamdulillah penyuluh di Jawa Timur ini selamat dari kelompok radikal.”

Lanjut beliau “Penyuluh agama Islam di Bondowoso terlalu ikhlas dan riya’nya kurang karena terlalu sufi. Sehingga tidak tercover oleh kementerian pusat karena kegiatannya tidak update dan tidak terekspos di media sosial. Mohon kalau ada kegiatan di share di medsos, jangan takut riya’, niat riya’ karena Allah. Bondowoso ini bagus dan layak tapi tidak pernah terjual di medsos, ngono yo ngono ning ojok koyok ngono.”ucapnya sambil tersenyum

Kedua, beliau menyampaikan bahwa para Direktur dan Dirjen Pusat dan bapak Menteri terus mengupayakan sebuah konsep untuk diajukan ke DPR RI Komisi VIII dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), agar kesejahteraan penyuluh agama dinaikkan dan diperbaiki. Karena selama ini kesejahteraan penyuluh agama kecil namun beban tanggung jawabnya sangatlah besar.

“Kami itu tidak diam, para Direktur dan Dirjen Pusat, bapak Menteri terus melakukan upaya agar kesejahteraan penyuluh agama diperbaiki. Kami hadir dalam undangan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dari DPR komisi VIII dan kami menyampaikan bahwa Kementerian Agama punya kopassus yaitu penyuluh yang diperhatikan dan diperbaiki kesejahteraannya. Kita berdoa mudah-mudahan DPR RI cepet ketuk palu dalam mensejahterakan penyuluh, tapi berapapun pendapatan kita, harus tetap kita syukuri.” jelasnya

Keberadaan penyuluh agama sekarang lagi naik daun, dulu yang menguasai penyuluh adalah Dirjen Bimas Islam, tapi sekarang penyuluh agama berada di pantauan Sekretaris Negara, Wakil Presiden dan bahkan Presiden. Sehingga wakil presiden mengundang penyuluh agama melakukan dialog interaktif guna membahas menurunkan kasus stunting dalam rangka mengangkat harkat dan martabat masyarakat indonesia.

Ketiga, beliau menyampaikan bahwa penyuluh agama yang sudah berpendidikan S.1 dapat mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Non Guru, yaitu pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja.

“Bapak Ibu Penyuluh yang sudah S.1 dapat mengikuti ujian PPPK, dan yang tidak kalah pentingnya penyuluh ini sekarang sudah bekerjasama dengan Dinas Kominfo agar dididik untuk menguasai digital, sehingga bisa menjawab dan mengkorter narasi hoaks.” ungkapnya

Belia juga berharap, penyuluh harus memiliki kompetensi yang bagus, terutama penguasaan agama, sehingga kalau ada pertanyaan atau permasalahan sosial penyuluh mampu mengatasi dan memberikan solusi.

Terkait dengan moderasi beragama Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI, Dr. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I, mengajak penyuluh untuk merenungkan firman Allah Swt yang tedapat dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159).

Moderasi beragama ini dianggap penting karena majemuknya masyarakat Indonesia dan banyaknya keberagaman yang ada di tengah-tengah masyarakat, dituntut hidup berdampingan dengan keharmonisan dan sikap moderasi ini dapat memunculkan rasa persatuan dan kesatuan, hidup rukun, harmonis, damai, toleran, serta taat konstitusi, sehingga kita bisa benar-benar menggapai cita-cita bersama menuju Indonesia maju.


Foto: Dr. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I bersama Kepala KUA Usai Kegiatan 

Kegiatan pembinaan dan pengarahan oleh Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI, ini berjalan lancar dan penuh khidmat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog dan diskusi panel tentang ‘Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan' perspektif filsafat dan tasawuf oleh Dr. Muslihun, Lc. M.Fil. dan Dr. Holid Batsal, M.Pd.I.


Foto: H. Astono Bersama Dua Pemateri dan Penyuluh 

Salah satu penyuluh Ustad Muhalli, M.Pd., sangat terkesan dengan adanya kegiatan pembinaan dan pengarahan oleh Direktur Penais Ditjen Bimais Kemenag RI ini, ia mengungkapkan rasa terima kasih karena banyak ilmu yang didapatkan terlebih dengan adanya diskusi interaktif tentang moderasi beragama dalam perspektif filsafat dan tasawuf yang menambah semangat penyuluh agama untuk terus berdiskusi guna mendapatkan solusi.


Foto: H. Astono Bersama Dua Pemateri dan Pengurus FKPAI

“Alhamdulillah hari ini kami dapat ilmu tambahan yang banyak dan bermanfaat terima kasih banyak kepada Pak H. Astono, Kasi Bimas Islam Bondowoso karena telah menyelenggarakan acara yang luar biasa. Begitu juga kepada ketua FKPAI dan seluruh jajarannya yang juga telah mensukseskan acara ini jazakumullah ahsanal jaza'.” Pungkasnya

PEWARTA: ALI WAFI
#Bondowoso #PenyuluhAgamaIslam #FKPAI #Kemenag #Penais #BimasIslam

0 Comments: