Headlines
Loading...
REPRESENTASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DALAM KEHIDUPAN MEDIA SOSIAL

REPRESENTASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DALAM KEHIDUPAN MEDIA SOSIAL

Oleh : AYOPRI, S.HI*

Indonesia Sejak tahun 2000 hingga sekarang tahun 2021 kita telah memasuki dunia canggih, dimulai dengan munculnya handphone jadul hingga smartphone, dimulai dengan SMS (Short Message Service) hingga WA (WhatsApp), dimulai telpon suara hingga bergambar (Video Call). Interaksi antar manusia semakin dekat dan semakin cepat, sudah tidak penghalang jarak untuk berkomunikasi dan bertatap muka.

Oleh karena itu perlu adanya penanam karakter dan sikap dalam model interaksi tersebut, penanaman akhlak antar sesama agar tidak menimbulkan gesekan sangat diperlukan, khusus di Indonesia peran negara telah hadir dalam memberikan arahan yang teratur dalam kehidupan bermedia sosial, yaitu hadirnya UU ITE (UU No. 11 Tahun 2008), dimana peraturan itu mengarahkan masyarakat media sosial agar tidak saling merugikan.

Tahun 2021 ini, kita bisa dikatakan memasuki tahun puncak peradaban manusia, dimana keleluasaan dan kesempatan adanya media sosial seakan tanpa kontrol, adanya media sosial justru bukan hanya sekedar memudahkan komunikasi, justru malah digunakan pada hal hal yang kurang manfaat, misalkan mengumbar aurat, sebagai modus kejahatan, padahal tujuan adanya media sosial ini untuk memudahkan manusia komonikasi dengan sesama dalam memperoleh manfaat baik yang sebesar-besarnya.

Dengan kondisi sosial yang sudah minim kontrol itu perlu adanya arahan yang baik untuk membenahinya, yaitu peran para tokoh (public figure) untuk tampil memberikan arahan yang baik sebagai penyeimbang pada perbuatan menyimpang dalam bermedia sosial.

Di bulan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 2021 ini, kita belum terlambat dalam melakukan pembenahan karakter sosial di media sosial, yaitu adalah tugas kita bersama bahwa fungsi manusia adalah sebagai hamba dan umat,  yang harus patuh dan taat pada Nabinya dan Tuhannya, persoalan media sosial itu hanya bersifat alat untuk interaksi antar sesama jangan sampai dipertuhankan. Sebagaimana contoh akhlak Nabi Muhammad yang patut kita terapkan dalam kehidupan bermedia sosial :

1. Ikhlas

Rasulullah SAW terkenal dengan keikhlasannya, terutama dalam beribadah. Al-Kafawi mendefinisikan ikhlas sebagai meniatkan ibadah sehingga hanya Allah semata yang disembah. Pendapat lain menyebutkan, ikhlas adalah membersihkan hati, ucapan, dan amal.

Ini juga relevan diterapkan dalam kehidupan media sosial, agar kita tidak memiliki sifat Individualistik, dan materialistik, kita banyak menyaksikan efek negatif dari media sosial adalah menimbukkan sikap individualistik dan acuh terhadap keadaan sekitar, sehingga mengikis nilai rasa ihklas untuk beramal baik itu untuk kepentingan kemasyarakatan dan agama. 

2. Yakin dan Tawakal

Yakin dan tawakal adalah akhlak Rasulullah SAW yang patut dicontoh setiap umat Islam dalam menjalankan segala urusan. Baik urusan agama maupun urusan dunia. Bahkan, Allah SWT telah memerintahkan umat manusia untuk bertawakal kepada-Nya.

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمَا ٱدْخُلُوا۟ عَلَيْهِمُ ٱلْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَٰلِبُونَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: "Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, "Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman." (QS. Al Maidah: 23)

Dalam sebuah hadits yang berasal dari Umar bin Khaththab Ra. Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, seandainya kalian bertawakallah kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dalam kehidupan media sosial juga sangat penting menanamkan keyakinan yang kuat dan sikap tawakal, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak Allah, tidak ada tuhan selain dia, menggantungkan diri kepada Allah adalah jalan yang benar dan diridloi olehnya, justru kita ketika menggantungkan diri kepada selain dia akan dihukumi menyimpang, bisa juga jika berlebihan dalam menggantungkan diri pada media sosial.

3. Jujur

Nabi Muhammad SAW memiliki sifat shidiq (jujur). Kejujuran beliau sudah diasah sejak kecil, saat ikut berdagang bersama pamannya, Abu Thalib. Kejujuran adalah salah satu bukti keimanan seseorang. Kejujuran akan mengantarkan hidup menuju ketenangan.

Dalam sebuah hadits yang berasal dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, "Aku menghafalkan sabda Rasulullah SAW, "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta menggelisahkannya." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Kejujuran sangat penting, baik untuk diri sendiri juga dalam interaksi dengan manusia, karena dengan jujur kita memiliki  tanggung jawab besar dalam pergaulan, bahkan dalam media sosial sekalipun jika minim rasa jujur akan diblokir oleh orang yang kita kenal, telah banyak pertemanan dihapus atau bahkan diblokir karena orang tersebut dianggap tidak memiliki perbuatan jujur.

4. Amanah

Amanah adalah akhlak Rasulullah SAW yang paling menonjol. Beliau dikenal sebagai sosok yang jujur dan amanah (terpercaya), baik sebelum diutus menjadi rasul maupun setelahnya. Hal itulah yang menjadikan masyarakat Arab memilih beliau untuk menjaga barang titipan mereka.

Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan amanah sebagai sifat yang melekat pada setiap nabi. Dalam surat Al-An'am ayat 90 Dia berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ

Artinya: "Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (QS. Al-An'am: 90)

Amanah adalah satu kesatuan dengan sikap jujur, orang yang jujur pasti amanah dan orang amanah pasti jujur. Tidak akan memiliki sikap amanah jika tidak jujur, dan tidak dianggap jujur jika tidak amanah, begitulah eratnya kedua sikap ini, dalam kehidupan bermedia sosial juga sangat penting memiliki kedua sifat dan sikap ini.

5. Murah Senyum dan Selalu Ceria

Rasulullah SAW adalah sosok yang murah senyum dan selalu ceria. Beliau juga selalu mengeluarkan perkataan yang baik. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa perkataan yang baik akan menaikkan derajat di surga.

Rasulullah SAW bersabda: "Dan yang termasuk mengangkat derajat adalah perkataan yang baik, menyebarkan salam, memberi makanan, sholat malam saat manusia dalam keadaan tidur." (HR. Ahmad dan disahihkan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Shahih Al-Jami')

Orang yang memiliki senyuman hangat, berkata baik, dan selalu ceria adalah orang yang akan selalu dirindukan dan sangat dicintai. Adapun, buah dari bermuka ceria adalah menumbuhkan kecintaan terhadap sesama kaum muslimin, menumbuhkan kenyamanan saat bertemu sesama muslim, mendapat ridha dari Allah SWT, dan mengikuti Rasulullah SAW.

Di bulan maulid Nabi Muhammad tahun 2021 ini perlu kita Refresh sifat dan sikap kita dalam meneladani seluruh akhlak yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW, agar kita menjadi insan yang mulia dan mendapat syafaat beliau kelak di akhirat, memang akhirat masih lama namun semua manusia pasti akan memasukinya, termasuk saya selaku penulis tulisan ini dan yang membaca bahkan yang memiliki server media penyampai tulisan saya ini. Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw.

* Penulis: Alumni STAIN Jember (sekarang UIN KHAS Jember), Sekarang aktif di LBH Adhikara Pancasila dan sebagai Tim Hukum media berita Zona Post Indonesia

0 Comments: