Headlines
Loading...
BIOGRAFI KH. ASY’ARI, PENERIMA NU PERTAMA DI BONDOWOSO

BIOGRAFI KH. ASY’ARI, PENERIMA NU PERTAMA DI BONDOWOSO

OLEH: PAC GP ANSOR WONOSARI BONDOWOSO

KH. Asy’ari merupakan tokoh Ulama NU yang sangat masyhur dikalangan masyarakat Bondowoso, terlebih warga masyarakat Wonosari. Bagi warga nahdliyin, ketika berbicara NU yang ada di Wonosari maka nama KH. Asy’ari selalu terucap oleh mayoritas warga nahdliyin, karena beliaulah yang menerima NU pertama di Bondowoso.

Biografi dan riwayat pendidikan KH. Asy’ari, sebagai bukti bahwa sanad keilmuan KH. Asy’ari nyambung dengan Syekh Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

KH. Asy’ari adalah salah satu putra dari lima bersaudara atas pernikahan antara KH. Muhammad Sholeh dengan Nyai Midasi. Beliau lahir pada tahun 1883 di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso. Keempat saudara KH. Asy’ari semuanya dilahirkan di Madura diantaranya, Muhammad Salim, Nyai Luk, Nyai Tahwi, Nyai Sofiyah. Pada masa itu, kondisi Desa Wonosari dipenuhi dengan tumbuhan alang-alang dan pepohonan tinggi sehingga masih terjaga kelestarian alamnya, bisa juga dikatakan sebagai wilayah hutan.

Jika ditelisik jalur nasab dari ayah, KH. Asy’ari merupakan keturunan salah satu Sunan Wali Songo. Abah atau ayah dari KH. Asy’ari sering disebut Kyai Salim (nama kuniyah), masyhur dipanggil KH. Mohmammad Sholeh. Selain itu, beliau juga mempunyai dua versi nama daging; Saladrih dan Sholeh Sodri. Kyai Sholeh adalah putra dari Kyai Muhalli (Mahalli) yang berasal dari Madura, Kyai Muhalli (Mahalli) putra Kyai Muhammad Ali, putra Kyai Hamdun, putra Kyai Sudaya, putra Kyai Hubaya, putra Kyai Dzul Ilmah (Bhujuk Kokap), putra Sayyid Abdul Karim yang terkenal mendapat julukan (Bhujuk Gung Bheleng).

Keturunan dari Bhujuk Gung Bheleng meliputi kyai-kyai dari daerah Tapal Kuda salah satunya adalah KHR. As’ad Syamsul Arifin (pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo), KH. Zaini Mun’im (pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo), KH. Ali Wafa (pendiri Pondok Pesantren Al-Aziz Tempurejo Jember), KH. Khotib Umar Sumberwringin (Jember).

Adanya nama desa Bheleng di daerah Sumenep dikarenakan adanya Bhujuk Gung Bheleng. Bhujuk Gung Bheleng sendiri putra dari Kyai Syits, beliau putra dari Sayyid Zainal Abidin (Bujuk Cendana Bangkalan). Sayyid Zainal Abidin putranya Sayyid Muhammad Khotib Gresik, putranya kanjeng Sunan Drajad yang makamnya saat ini ada di Lamongan. Sunan Drajad adalah putra dari Sunan Ampel.

Riwayat pendidikan KH. Asy’ari sejak dilahirkan sampai beliau berumur 21 tahun, beliau menimba ilmu Agama langsung ke ayahandanya sendiri, KH. Moh Sholeh. Pada tahun 1904 KH. Asy’ari mengaji kepada KH. Abdul Lathief Kauman Bondowoso. Empat tahun mondok di Kauman, pada 1908 beliau menempuh pendidikan pesantren ke Kebun Candi Pasuruan selama 2 tahun. Setahun setelahnya, pada tahun 1911 KH. Asy’ari mengaji kepada KH. Kholil di Bangkalan Madura.

Kyai Sholeh memondokkan KH. Asy’ari tidak hanya sendirian dari Bondowoso, melainkan bersama tiga temannya. Salah satu temannya adalah Ji Tina desa Jurang Sapi atau abahnya KH. Ibrohim Desa Sumberkalong. Ketika di pondok banyak peristiwa sejarah yang bisa dijadikan sebagai literatur bahwa KH. Asy’ari termasuk santri dari Syaikhona Kholil. KH. Asy’ari merupakan teman Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau berdua ketika berada di Bangkalan selalu makan di tempat yang sama.

Ketika Syaikhona Kholil memberi makanan kepada santrinya, Kyai Kholil sering memanggil Hasyim Barat dan Hasyim Timur. Hasyim barat berarti julukan Syaikhona kepada Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, sedangkan Hasyim timur adalah panggilan Syaikhona kepada KH. Asy’ari Wonosari. kewafatan Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Asy’ari, yakni pada tahun yang sama 1948. Kronologis wafatnya juga disebabkan oleh perantara yang sama, yakni terkejut dengan kembalinya penjajah Inggris dan Belanda ke Indonesia.

Selama setahun KH. Asy’ari menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, pada tahun 1912 beliau kembali ke kampung halaman setelah memperoleh ilmu untuk diamalkan kepada masyarakat Desa Sumberkalong dan sekitarnya. Sejak tahun 1912 beliau mulai mengajar ngaji sebagai seorang Kyai.

Kembalinya beliau ke Wonosari, keadaan mental masyarakat rusak dan selalu menimbulkan keresahan dan kerusuhan yang disebabkan oleh tingkah laku para dursila (bromocorah). Judi, aduan sapi, merampok dan membunuh serta ketangkasan main pecuk rotan (ojhung) menjadi tradisi masyarakat yang sulit untuk dirubah. Namun, KH. Asy’ari untuk bisa merubah perilaku masyarakat tidaklah mudah. KH. Asy’ari harus menggunakan metode “Saya masuk di pintu mereka, lalu mereka keluar dari pintu saya”. Artinya beliau harus berbaur masuk ke dalam aktifitas masyarakat sehari-hari agar lebih dekat dengan masyarakat.

Ojhung merupakan tradisi, dimana para pemain, saling berhadapan dan saling cambuk dengan rotan. Permainan Ojhung dimaksudkan sebagai ajang perlombaan, untuk menguji nyali, kekuatan fisik, taktik dan ketangkasan para pemain. Tradisi ini sering dijadikan ajang taruhan ataupun judi oleh para peserta yang melihatnya, disini perlahan KH. Asy’ari merubah aturan permainan ojhung.

Kadang beliau terpaksa menebak dan menentukan sapi-sapi mana yang akan menjadi pemenang dalam gelanggang aduan sapi. Istimewanya, ternyata tebakan KH. Asy’ari benar, sapi yang ditebaknya selalu menang. Sehingga membuat para dursila menaruh perhatian kepada beliau. Banyak orang yang meminta doa dan mantra kepada KH. Asy’ari agar ayam dan taruhan judinya selalu menang.

Sejak saat itu, mulailah beliau dikenal oleh masyarakat sebagai Bindara (Gus) dengan sebutan Bindara Hasyim. Kesempatan itu digunakan oleh beliau untuk memasukkan ajaran Islam. Orang yang meminta doa dan Hizb, khususnya para dursila diwajibkan terlebih dahulu mengambil wudhu, membaca basmalah dan dua kalimat syahadat.

Mereka yang belum bisa mengambil wudhu, membaca basmalah dan syahadat, dibimbing sampai bisa. Setelah para dursila melakukan kewajibannya, barulah maksud mereka dituruti. Jadi, metode dakwah KH. Asy’ari tidak sama sekali menggunakan cara kekerasan, melainkan dengan kelembutan dan penuh pengayoman serta kasih sayang. Proses Islamisasi yang diterapkan KH. Asya’ari di Bondowoso, Wonosari Khususnya berjalan dengan aman dan damai, tanpa ada pergolakan serta kegoncangan psikologis dan sosial. Sebab, Beliau KH. Asy’ari lebih menggunakan pendekatan kultural, yang sarat dengan simbol-simbol kebudayaan lokal.

Seiring berjalannya waktu, KH. Asy’ari dalam menyebarkan Agama Islam di wilayah Wonosari dan sekitarnya menuai hasil. Keberhasilan ini diikuti pula dengan jerih payah beliau untuk merintis dan mendirikan Pondok Pesantren Daruth Tholabah, serta menjadi Pembina Pertama Jam’iyah Nahdlatul Ulama di wilayah Kabupaten Bondowoso.

Usaha dan doa dari sesama kyai tidak bisa dipungkiri perannya, salah satunya adalah beliau KHR. Syamsul Arifin merupakan ayah dari KHR. As’ad Syamsul Arifin (pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo), dikala itu KHR. Syamsul Arifin menjadi dewan penasehat atau pembina di Pondok Pesantren Daruth Tholabah Wonosari Bondowoso antara tahun 1910-1950 M.

Berdirinya Pondok Pesantren Daruth Tholabah, merupakan masa-masa yang begitu genting dimana kolonialisasi Belanda masih melanda wilayah Bondowoso dan sekitarnya, kemudian diikuti pula penjajahan Jepang. Kondisi ini membuat Pondok Pesantren Daruth Tholabah selain sebagai pusat pendalaman ilmu agama, juga difungsikan sebagai basis pertahanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah.

Selama masa perjuangan, masyarakat Wonosari dan sekitarnya termasuk di dalamnya santri Pondok Pesantren Daruth Tholabah, yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat khususnya preman, penjahat dan bromocorah ikut terlibat dalam perjuangan melawan penjajah.

KH. Asy’ari wafat pada hari ahad tanggal 22 shafar tahun 1367 H/ 1948 M, diusia yang ke 63 tahun, dimana pada saat itu, Negara Indonesia baru merayakan kemerdekaannya yang ke tiga. KH. Asy’ari dimakamkan di pemakaman keluarga yang terletak di Desa Kelapa Sawit Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari perjuangan beliau, dan apa yang selama ini beliau kerjakan, mampu untuk kita lanjutkan sebagai bentuk manifestasi estafet perjuangan beliau di Kota Bondowoso. Aamiin ya robbal ‘alamin.

Sumber: Buku Haul Akbar KH. Asy’ari ke 64 (Lora. Khoirul Umam, BSA)
Editor: Ali Wafi

0 Comments: