Headlines
Loading...
MOMENTUM PERBAIKAN DIRI, BANGKITKAN GHIRAH BERAGAMA LEWAT MAULIDAN

MOMENTUM PERBAIKAN DIRI, BANGKITKAN GHIRAH BERAGAMA LEWAT MAULIDAN

Oleh : Moh. Ghofur Hasbullah*

Sudah lazim di kalangan umat Islam, khususnya mereka kaum santri atau golongan yang mengikrarkan diri, sebagai "Ahlus Sunnah wal Jama'ah", dimana tiap datangnya bulan Maulid, semuanya gembira menyambut bulan kelahiran Rasulullah.

Berbagai bentuk desain dalam balutan perayaan bulan Maulidin Nabi, seperti dalam tradisi di daerahnya penulis, yaitu dengan pembacaan maulid disertai iringan musik hadrah, berbagai makanan ringan juga menyertakan buah-buahan.

Konsep acara dengan mengundang tetangga, kerabat, handai tolan, dan famili, kemudian acara ditutup dengan doa bersama, ada juga dihadirkan pemuka agama atau kyai setempat, guna menyampaikan nasehat dan wawasan keagamaan, khususnya mengenai sirah Nabawiyah Shallallahu Alaihi wa Saalam.

Perayaan semacam ini adalah bentuk ungkapan cinta pada Rasulullah, juga sebagai identitas diri, bahwa ia adalah umat Nabi Muhammad. Dengan memeriahkan di hari kelahirannya, harapan besarnya adalah syafaatnya.

Kegembiraan semacam ini adalah hal yang wajar, dan itu lumrah dilakukan oleh siapapun selama tidak ada dalil yang menolaknya. Terlebih rasa gembira menyambut bulan kelahiran sang revolusi akhlak, sayyidul Anbiya' wal Mursaliin, ini justru dianjurkan dan disyari'atkan agama. Meskipun ada sebagian kelompok yang secara terang menuduh bid'ah tradisi-tradisi perayaan di bulan Maulid, alasan mereka adalah karena perayaan semacam itu tidak ditemukan pada masa Rasul.

Tuduhan yang di lontarkan kaum ekstrem ini tidaklah berlandaskan naskah yang jelas, mereka mengklaim apapun yang tiada dikerjakan pada masa Nabi, hal itu dianggap khurafat  yang harus dihindari. Bagaimana dengan kita ? Terkait hukum merayakan bulan Maulid, penulis kutip maqolah KH. Yasin Asymuni, yang beliau nuqil dari kitab "al-Bayan Li-Ikhtha-i Ba'dil Kitab, jilid 1, halaman 272, di jelaskan bahwa, Hukum  perayaan Maulid itu disunnahkan dan disyariatkan.

Sementara, dengan tegas Nabi Muhammad memberi jaminan syafaat bagi mereka yang gembira menyambut hari kelahirannya, sabda Nabi,

“Siapa yang gembira saat hari kelahiranku, (maka) aku akan memberikan syafa'at baginya.”

Mengeskpresikan kecintaan pada seseorang tidak butuh dalil apapun untuk menegaskan. Padahal, bagaimana dengan cinta Nabi ? Sangat tidak dibenarkan jika mencintai Rasul membutuhkan dalil. Mengutip maqolah ulama, “Mempertanyakan hari kelahiran nabi, sama halnya mempertanyakan keberadaan nabi”. Bagaimana mungkin mencintai beliau membutuhkan referensi, padahal takaran mencintai Nabi itu menjadi ukuran menjadikan ukuran keimanan seseorang, sebagaimana sabdanya;

“Belum dikatakan beriman (sempurna) bilamana aku dan Allah lebih dicintainya daripada keluarganya”.

Perayaan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), Adalah sukacita, gembira atas suatu peristiwa. Definisi ini berbeda dengan pengertian “Peringatan”. Peringatan menurut KBBI adalah nasehat, teguran, catatan.

Oleh karena, jika ekspresi cinta Nabi ini merujuk pada kalimat memperingati bulan kelahiran Nabi, maka dengan jelas bahwa peringatan hari lahir Nabi juga pernah beliau ekspresikan dalam bentuk puasa hari senin.

Diceritakan oleh sahabat Qathadah ra, ia berkata,”ketika Rasulullah ditanya perihal puasanya di hari senin, beliau menjawab, ' pada hari itu aku dilahirkan, dan hari itu (pula) wahyu diturunkan”. (HR. Muslim)

Adapun mengenai perayaan bulan Maulid, siapa yang pertama menggelar ? Dalam hal ini, ada perbedaan pendapat mengenai pencetus perayaan Maulid Nabi. Menurut keterangan dari al-Maqrizy dalam kitabnya yang berjudul al Khathat, perayaan Maulid dimulai ketika zaman Daulah Fatimiyah syiah di Mesir.

Mereka membuat banyak acara perayaan Maulid, seperti Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid 'Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah binti 'Ali, hingga maulid Hasan bin 'Ali dan Husain bin 'Ali. Bani Fatimiyah ini berkuasa sekitar abad 4 H. Hal inilah yang menyebabkan kalangan Ulama seperti Tajuddin al Fakihani dan as Sakhawi, murid Imam Nawawi, berfatwa bahwa perayaan Maulid adalah bid'ah tercela.

Sedangkan menurut sumber lain Maulid dikembangkan oleh Abul al-Abbas al-Azafiahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar.

Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat Islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela Islam pada masa Perang Salib.

Terlepas dari perbedaan mengenai hukum perayaan maupun siapa inisiator perayaan Maulid Nabi. Semua sudut pandang tidak bisa melepas kecintaan seseorang pada pimpinannya, lebih-lebih Nabi Muhammad SAW.

Seperti halnya merayakan kelahiran nabi, juga merayakan hari-hari besar Islam lainnya, dan  telah disinggung di atas terkait hukumnya. Tentunya setiap kegiatan haruslah ada hikmah yang bisa dipetik, ada ibrah yang dijadikan pelajaran di setiap waktu.

Taruhlah perayaan isra' dan mi'raj, di sana ada pelajaran bahwa ada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, seorang hamba suci, sayyidul awwaliin wal akhiriin telah dijalankan dalam waktu satu malam, mulai masjidil Haram menuju masjidil Aqsha, setelah itu, dibawalah ia menuju sidratul muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Perayaan tahun baru hijriyah, hikmah bagi kita umat Islam ialah merefleksikan perjuangan Nabi dan para sahabat di masa-masa awalnya agama Islam. Tantangan dakwah dan gempuran kaum kafir, mengharuskan beliau beserta para sahabatnya untuk berhijrah meninggalkan kampung halaman.

Pada dasarnya, memeriahkan bulan maulid adalah bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad. Namun, bilamana perayaan tersebut akan terasa hambar jika tanpa menyisakan pelajaran dari seseorang yang dicintainya. Pasalnya, mencintai seseorang mestinya juga memahami perilaku seorang tersebut, lebih dari itu juga senantiasa mengikuti apa yang dianjurkan dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.

Laksana snack tanpa bungkus, begitulah istilah penulis yang mana lebih afdol jikalau peringatan hari lahirnya Nabi, disertai pula ghirrah beragama. Bisa jadi Rasulullah  kecewa bila umatnya tidak memanjatkan shalawat kepadanya, tetapi lebih kecewa bila umatnya mengaku cinta padanya, akan tetapi enggan mengindahkan anjurannya.

Syari'at yang sudah diturunkan kepada beliau membawa misi “Rahmatan lil 'Alamiin”. Hal itu tercermin dengan perilaku shaleh secara personal, pun juga shaleh secara umum. Islam menganjurkan sholat, juga mengharuskan bayar zakat. Rasulullah melarang umatnya untuk pelit, namun beliau juga menganjurkan berbagi.

Dengan demikian, peringatan maulid nabi harusnya menjadi spirit umat Islam untuk memacu semangat beragama, memberi daya untuk mewujudkan Islam yang menjadi rahmat, bukan menjadi laknat, Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Pada akhirnya, cerminan Islam Rahmat bagi semua akan bisa terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.

*Penulis : Alumnus PP. Lirboyo - Kediri tahun 2012. Aktif sebagai pengajar Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren Darul Fikri, Pondok Pesantren Nurul Dhalam Kecamatan Wringin Bondowoso, dan sebagai pengusaha di bidang kerajinan “Tirai Bambu”.

0 Comments: