Headlines
Loading...
JALAN MUSTAFA KEMAL ATATURK, APA URGENSINYA BAGI BANGSA INDONESIA ?

JALAN MUSTAFA KEMAL ATATURK, APA URGENSINYA BAGI BANGSA INDONESIA ?

OLEH : AYOPRI AL JUFRI

Bagi pemerhati sejarah nama Mustafa Kemal Ataturk sudah tidak asing lagi, bahkan dalam sejarah dunia sudah banyak mengenal sosok ini, sedangkan dunia islam mengenal Mustafa Kemal Ataturk sebagai tokoh Sekuler, dalam kepemimpinannya banyak merugikan umat muslim, sistem sekuler dengan memisahkan negara dan agama, menjadikan turki sebagai negara yang dianggap jauh dari nilai-nilai Islamiyah.

Runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah 1909 juga karena peran Mustafa Kemal Ataturk. Siapa sih Mustafa Kemal Ataturk, sehingga ada usulan sebagai nama jalan di Menteng Jakarta? Berikut profil singkat dan perannya dalam penggulingan Sultan serta Berdirinya Republik Turki pada 29 Oktober 1923, Mustafa Kemal menjadi presiden pertamanya.

Mustafa Kemal Ataturk (19 Mei 1881 hingga 10 November 1938), hingga 1934 namanya adalah Gazi Mustafa Kemal Pasa, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Ideologinya yang sekularis dan nasionalis berikut kebijakan serta teorinya dikenal sebagai Kemalisme.

Mustafa dilahirkan pada 1881, di Slanik Utsmaniyah (kini Thessaloniki di Yunani), sebagai anak seorang pegawai kecil yang kemudian menjadi pedagang kayu. Sesuai dengan kebiasaan Turki pada waktu itu, ia dinamai Mustafa saja. Ayahnya, Ali Rıza Efendi, seorang pegawai bea cukai, meninggal dunia ketika Mustafa baru berusia tujuh tahun. Karena itu, Mustafa kemudian dibesarkan oleh ibunya, Zubeyde Hanim.

Ketika Ataturk berusia 12 tahun, ia masuk ke sekolah militer di Slanik dan Manastir (Kino Bitola), kedua-duanya pusat nasionalisme Yunani yang anti-Turki. Mustafa belajar di sekolah menengah militer di Slanik, dan di sana namanya ditambahkan dengan nama Kemal "kesempurnaan" oleh guru matematikanya sebagai pengakuan atas kecerdasan akademiknya. Mustafa Kemal masuk ke akademi militer di Manastir pada 1895. Ia lulus dengan pangkat letnan pada 1905 dan ditempatkan di Damaskus.

Di Damaskus ia segera bergabung dengan sebuah kelompok rahasia kecil yang terdiri dari perwira-perwira yang menginginkan pembaruan, yang dinamai Vatan ve Hurriyet (Tanah Air dan Kemerdekaan), dan menjadi penentang aktif Kesultanan Utsmaniyah. Pada 1907 ia ditempatkan di Slanik dan bergabung dengan Komite Kesatuan dan Kemaljuan yang biasa disebut sebagai kelompok Turki Muda.

Pada 1908 kaum Turki Muda merebut kekuasaan dari sultan Abdul Hamid II, dan Mustafa Kemal menjadi tokoh militer senior. Pada 1911, ia pergi ke provinsi Libya untuk ikut serta dalam melawan invasi Italia. Pada bagian pertama dari Perang Balkan Mustafa Kemal terdampar di Libya dan tidak dapat ikut serta, tetapi pada Juli 1913 ia kembali ke Istanbul dan diangkat menjadi komandan pertahanan Utsmaniyah di wilayah Canakkale di pantai Trakia (Trakya). Pada 1914 ia diangkat menjadi atase militer di Sofia, sebagian siasat untuk menyingkirkannya dari ibu kota dan dari intrik politiknya.

Setelah Republik Turki berdiri pada 29 Oktober 1923, Mustafa Kemal menjadi presiden pertama. Dia mengganti alfabet Arab dengan alfabet Latin, memperkenalkan kalender Gregorian dan mendesak orang untuk mengenakan pakaian Barat.

Ia juga melakukan industrialisasi, mendirikan pabrik-pabrik milik negara di seluruh negeri serta membangun jaringan kereta api. Banyak undang-undang baru untuk menetapkan kesetaraan hukum antara jenis kelamin. Mustafa menghapus undang-undang cadar perempuan dan memberi perempuan hak untuk memilih.

Meskipun dia yakin sedang memajukan negara, tidak semua reformasi Mustafa Kemal diterima dengan hangat. Kebijakannya tentang sekularisme negara sangat kontroversial, dan dia dituduh merusak tradisi budaya yang penting.

Pada tahun 1934, ia memperkenalkan nama keluarga di Turki, dan ia mengambil nama belakang Ataturk, yang berarti "Bapak Turki". Dia meninggal pada 10 November 1938, karena sirosis hati.

Sosok Mustafa menjadi inspirasi tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia, termasuk Soekarno. Bung Karno pernah mengulas keberadaan sosok Mustafa Kemal dan nasionalisme Turki secara khusus dalam bukunya yang legendaris Di Bawah Bendera Revolusi. Dalam buku itu, Bung Karno menampilkan sejumlah referensi yang menyanggah bahwa para pemimpin Turki Muda, termasuk Mustafa Kemal, sebagai anti-agama.

Bung Karno menggambarkan bahwa Turki modern berbeda dengan Ottoman. Turki modern merupakan negara yang memisahkan agama dan negara, sehingga negara tidak lagi ikut campur terkait persoalan agama. Agama menjadi urusan manusia, bukan urusan pemerintah.

“Orang mengatakan Turki adalah anti-Islam. Padahal, menurut Frances Woodsmall, Turki sekarang anti-kolot, anti-soal-soal lahir dalam beribadat, tetapi tidak anti-agama,” demikian tulis Bung Karno dalam buku tersebut.

Peran Mustafa dalam memodernisasi Turki mempengaruhi pemikiran Soekarno hingga dapat mengkonsepsikan negara Indonesia seperti saat ini. Indonesia menjadi negara yang berlandaskan prinsip Kemalnusiaan namun tanpa mengesampingkan agama. Hak memeluk agama juga telah dijamin oleh Undang-undang.

Yang perlu jadi catatan, Antara Mustafa Kemal Ataturk dan Ir. Soekarno mungkin ada kemiripan dari segi perjuangannya, jika Ir. Soekarno berhasil menggulingkan pemerintahan penjajah, baik Belanda dan Jepang dan berhasil mendirikan negara merdeka bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedangkan Mustafa Kemal Ataturk berhasil menggulingkan Pemerintahan sah yaitu kekhalifahan Utsmaniyah di Turki, dengan merubah Turki menjadi negara Republik.

Kontroversi Pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk bagi dunia Islam

Meski dikenal sebagai Bapak Turki yang berjasa melahirkan Turki sebagai negara modern, Ataturk juga mendapat kecaman sebagai pelopor sekularisme di dunia Islam.

Salah satu kontroversi yang terkenal darinya adalah pengubahan Hagia Sophia menjadi sebuah museum. Mulanya, setelah Konstantinopel jatuh, Hagia Sophia difungsikan sebagai masjid oleh Kekaisaran Ottoman.

Namun, Kekaisaran Ottoman tumbang pada Perang Dunia I. Hal ini membuat Ataturk sebagai pemerintah sekuler baru Turki mengambil alih kekuasaan. Ia memutuskan mengubah bangunan itu menjadi museum dan membukanya untuk turis.

William L & Martin Bunton dalam bukunya A History of the Modern Middle East, kehidupan masyarakat Turki berubah ketika pada 1923 Turki dinyatakan sebagai sebuah negara sekuler. Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad digantikan oleh sistem Barat. Di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk melakukan reformasi secara menyeluruh, baik reformasi sosial, ekonomi, maupun administrasi.

Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia dan peradaban Islam, Arab, dan Persia di Timur Tengah. Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki. Pada masa Turki Utsmani, Islam ditetapkan sebagai agama resmi negara. Islam juga menjadi sumber pembangunan pranata sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Turki.

 

Namun, ungkap William L & Martin Bunton dalam bukunya A History of the Modern Middle East, kehidupan masyarakat Turki berubah ketika pada 1923 Turki dinyatakan sebagai sebuah negara sekuler. Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad digantikan oleh sistem Barat. Di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk melakukan reformasi secara menyeluruh, baik reformasi sosial, ekonomi, maupun administrasi.

Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of Islamic Civilization menyatakan, Mustafa Kemal berhasil mendirikan Republik Turki yang berdasarkan pada prinsip sekularisme, modernisme, dan nasionalisme di atas puing-puing keruntuhan khilafah Turki Utsmani.

Dengan gagasan sekularisme, nasionalisme, dan modernisme yang diusungnya, Mustafa Kemal dan pengikutnya melakukan gerakan reformasi di Turki dengan dasar-dasar yang telah diletakkan oleh para pembaharu pada masa Turki Utsmani. Pada perkembangan selanjutnya, ide-ide reformasi Mustafa Kemal menjadi suatu gerakan politik pemerintah yang dikenal dengan sebutan Kemalisme.

S N Eisenstadt dalam The Kemal list Regime and Modernization: Some Comparative and Analytical Remarks menyebutkan masa kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk menimbulkan banyak perubahan kelembagaan mendasar yang telah dikembangkan selama berabad-abad.

Reformasi dimulai dengan modernisasi konstitusi, termasuk memberlakukan konstitusi baru 1924 yang menggantikan konstitusi 1921 yang diadaptasi dari hukum Eropa. Hal ini juga diikuti oleh sekularisasi menyeluruh dan modernisasi administrasi, dengan fokus khusus pada sistem pendidikan.

Muhammad Syafii Antonio melanjutkan, setelah membubarkan kekhalifahan, kaum Kemalis menghapus lembaga-lembaga syariah yang ketika itu menjadi benteng terakhir dari sistem khilafah Islamiyah. Setelah itu, kelompok ini menutup sekolah-sekolah Islam (madrasah) yang sudah ada sejak 1300-an.

Pemisahan antara kehidupan agama dan negara adalah salah satu tindakan ekstrem yang dilakukan oleh rezim Kemalis setelah penghapusan khilafah. Pemisahan ini tidak hanya bertujuan untuk memisahkan agama dari kehidupan negara, tetapi juga mengakhiri kekuatan tokoh-tokoh agama dalam masalah politik, sosial, dan kebudayaan.

Oleh sebab itu, suatu komite dibentuk di Fakultas Teologi Universitas Istanbul untuk melakukan modernisasi terhadap ajaran Islam. Komite ini menyebarkan ide Mustafa Kemal untuk mengganti bentuk dan suasana masjid sebagaimana bentuk dan suasana gereja di negara-negara Barat.

Mereka menekankan pada pentingnya masjid yang bersih dengan bangku-bangku dan ruang tempat penyimpanan mantel. Selain itu, mereka juga mewajibkan jamaah masuk dengan sepatu yang bersih menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Turki.

Puncaknya pada 1932, pemerintah mengeluarkan kebijakan mengganti lafal azan yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Turki, sesuatu yang amat ditentang oleh mayoritas masyarakat Muslim Turki.

Gerakan Reformasi di bidang agama yang dilakukan oleh kaum Kemalis sesungguhnya bertentangan dengan ide sekularisme yang mereka usung sendiri. Berbagai upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam yang mereka lakukan merupakan bentuk campur tangan pemerintah terhadap kehidupan beragama di dalam masyarakat.

Padahal, sekularisme sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan di mana negara menjamin kebebasan beribadah bagi warga negara. Namun, pada pelaksanaannya, kaum Kemalis menjalankan sekularisme yang mereka agung-agungkan itu dengan semangat nasionalisme yang radikal dan sangat dipaksakan. Oleh sebab itu, wajar jika gerakan nasionalisasi agama ini hanya bertahan sebentar.

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kaum Kemalis (Partai Rakyat Republik) pada 1950 azan kembali diucapkan dalam bahasa Arab. Masjid-masjid di Turki pun tetap menunjukkan bentuk-bentuk yang umum sebagaimana masjid di negara-negara lainnya.

Itulah perjalanan pemerintahan dan peran Sosok Mustafa Kemal Ataturk, dalam sejarah Islam tercatat tidak menguntungkan, karena secara kebebasan agama islam sangat dibredel. Berbeda dengan Ir. Soekarno, dia seorang Nasionalis dan Religius, selain itu di juga beragama Islam, juga menghormati agama lain, makanya dalam Perenungannya muncul ide Dasar Negara bernama Pancasila yang mengakui ketuhanan yang Maha Esa.

Lalu apa urgensinya jika ada usulan nama jalan Mustafa Kemal Ataturk di Jakarta? Tentu bagi kaum muslim Indonesia itu sangat menyakitkan, melihat biografi Kemal yang tidak berpihak pada Islam sepertinya sangat menyakitkan, boleh jadi ide itu muncul karena semangat Hubungan Bilateral Antar Indonesia dan Turki, tapi ide itu kurang tepat dan tidak layak untuk dilanjutkan.

Ada alternatif lain jika itu akan jadi sebuah Kado bagi Pemerintahan Turki saat ini, misalnya Nama Jalan Alfatih, selaku salah satu Sultan (Mahmud Alfatih) penakluk Konstantinopel yang memiliki ikatan erat bagi hati umat muslim dunia termasuk Indonesia.  

*Penulis Alumni STAIN Jember (UIN KHAS Jember), Aktif di Lembaga Bantuan Hukum Adhikara Pancasila Indonesia (LBH API), dan Tim Hukum Media Berita Nasional Zona Post Indonesia.

0 Comments: