Headlines
Loading...
HARI SANTRI NASIONAL DAN KEMANDIRIAN PESANTREN

HARI SANTRI NASIONAL DAN KEMANDIRIAN PESANTREN

 Oleh : Ayopri Al Jufri

1. Sejarah diadakannya Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Pada awalnya KH. Hasyim Asy'ari menjabat sebagai Rais Akbar PBNU menetapkan resolusi jihad melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur.

Hal tersebut terlihat pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945 saat pengurus NU Jawa dan Madura menggelar pertemuan di Surabaya. Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyatakan sikap setelah mendengar tentara Belanda dan sekutu berupaya menguasai Indonesia.

Melalui resolusi jihad tersebut, kaum santri memohon kepada Pemerintah Republik Indonesia menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata terhadap usaha-usaha yang membahayakan kemerdekaan, agama serta Negara Indonesia terutama pada pihak Belanda.

Bagi NU, Belanda dan Jepang telah berbuat kezaliman di Indonesia. Resolusi ini membawa pengaruh yang besar dan berdampak besar setelah Hasyim Asy'ari menyerukan resolusi.

Lalu, hal ini membuat rakyat dan santri melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Banyak santri yang aktif dan terlibat dalam pertempuran ini. Perlawanan rakyat dan kalangan santri ini membuat semangat para pemuda Surabaya dan Bung Tomo.

Akhirnya perjuangan tersebut menewaskan pemimpin Sekutu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Southern Mallaby. Mallaby tewas dalam pertempuran yang berlangsung pada 27-29 Oktober 1945. Akhirnya, hal tersebut memicu pertempuran 10 November 1945.

Hari Santri tidak hanya merujuk pada komunitas tertentu, tetapi merujuk pada mereka yang memiliki semangat nasionalisme.

Perjuangan Kalangan santri melawan penjajah dalam catatan sejarah tidak bisa dihilangkan begitu saja, adapun adanya Hari Santri Nasional bukan semata sebuah Ceremonial, tapi sebuah semangat baru mengenang perjuangan kalangan santri, agar santri-santri milenial dapat meniru ghirah (semangat) santri jaman dahulu, karena kehidupan manusia tidak bisa lepas dari sejarah, maka kita harus tahu sejarah agar bisa mengenang peristiwa dalam sejarah, terutama sejarah perjuangan kalangan santri.

2. Dasar Hukum Hari Santri Nasional

Penetapan ini dituangkan dalam keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta.

Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk meneladani semangat jihad kepada para santri tentang negara Indonesia yang digelorakan para ulama.

Pada 22 Oktober terjadi satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy'ari.

Seruan ini berisikan perintah kepada umat islam untuk berperang atau jihad melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan.

Sekutu yang dimaksud adalah Inggris sebagai pemenang perang dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang.

Namun konteks saat ini perjuangan yang masih relevan adalah mengisi kemerdekaan dengan karya-karya untuk kemajuan bangsa, baik berupa pemikiran, atau buah karya berupa kebijakan bagi yang diberikan amanah menjadi pemimpin saat ini, selain  itu perjuangan yang begitu relevan adalah ikut mendukung kedaulatan negara dari semua sektor, baik kedaulatan teritorial, kedaulatan hukum, kedaulatan ekonomi, kedaulatan pendidikan dan semua jenis kedaulatan demi terciptanya negara yang berintegritas, martabat di mata dunia.

Kita saat ini patut bersyukur, karena Wakil Presiden Republik Indonesia berasal dari Pesantren, Kiai Ma'ruf Amin adalah sebuah simbol kesuksesan kalangan santri dalam mengisi kemerdekaan, dengan jabatan yang beliau emban bersifat nasional, tidak semata-mata hanya untuk satu golongan Muslim saja, tapi untuk seluruh Rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Begitu juga nilai-nilai perjuangan kebangsaan yang dilakukan Telah oleh Presiden RI ke empat, yaitu Kiai Haji Abdurrahman Wahid baik sebelum maupun setelah menjabat sebagai Presiden RI.

Kita santri milenial harus bagga memiliki contoh taulatan dari kalangan santri yang berhasil menjadi orang besar dengan menggunakan baju kesantriannya, itu menunjukkan bahwa nama santri bukan lagi dianggap sebagai kalangan Islam tradisional, jika dahulu hanya dianggap golongan sarungan dan peci hanya bisa mengaji dan tahlil, maka santri saat ini sudah bisa masuk di berbagai sektor pemerintahan dan swasta dalam memberikan peran pentingnya.

3. Kemandirian Pesantren dengan Hari Santri Nasional

Peran penting Kalangan Santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia hingga saat ini dalam mengisi kemerdekaan telah mendapat perhatian serius dari pemerintah, sejak lahirnya UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menjadi sejarah baru bentuk rekognisi (pengakuan) Negara terhadap pesantren yang eksistensinya sudah ada berabad-abad silam, jauh sebelum Tanah Air ini merdeka. Tidak hanya pengakuan, UU tentang Pesantren juga merupakan bagian dari afirmasi dan fasilitasi kepada dunia pondok pesantren.

Lahirnya UU yang berpihak pada kaum sarungan ini berawal dari sederet keresahan yang dialami oleh kalangan pesantren. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) selama ini belum mengakomodir kearifan dan kearifan lokal pesantren sebagai lembaga pendidikan.

Belum lagi melihat pesantren selain menyelenggarakan fungsi pendidikan, juga menyelenggarakan fungsi dakwah dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Di sini muncul kebutuhan atas suatu peraturan peraturan perundang-undangan yang memberikan pengakuan kepada pesantren dalam bentuk pengaturan secara utuh dan komprehensif.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam memberikan legal standing yang kokoh terhadap dunia pesantren, maka Presiden RI Joko Widodo pada Kamis (2/9/2021) lalu telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren.

Perpres ini mengatur tentang dana abadi pesantren, yaitu dana yang dialokasikan khusus untuk pesantren dan bersifat abadi untuk menjamin keberlangsungan pengembangan pendidikan pesantren yang bersumber dan merupakan bagian dari dana abadi pendidikan, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 Nomor 3.

Selain itu kementerian Agama RI yang secara khusus memberikan pengayoman kepada pesantren juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang pesantren. Regulasi tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang No 18 tahun 2019 tentang Pesantren.

Regulasi tersebut adalah PMA No 30 tahun 2020 tentang Pendirian dan Penyelenggaraan Pesantren (diundangkan pada 3 Desember 2020), PMA No 31 tahun 2020 tentang Pendidikan Pesantren (diundangkan pada 30 November 2020), dan PMA No 32 tahun 2020 tentang Ma’had Aly (diundangkan pada 3 Desember 2020).

Berbicara kemandirian pesantren sebetulnya sejak awal munculnya pesantren di Bumi Nusantara, memang telah menjadi satu-satunya kegiatan keagamaan dan pendidikan juga sosial yang berjalan secara Swadaya berdasar keikhlasan, dimana sebelum kemerdekaan pendidikan diniyah pesantren banyak dilaksanakan di emperan-emperan masjid, hingga kemudian terbentuk secara pemondokan yang disebut Pesantren.

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa pesantren selain sebagai fungsi pendidikan juga sebagai fungsi dakwah juga sosial, maka dari itu yang dikedepankan adalah keikhlasan, dan didunia pesantren dikenal Barokah, adapun barokah akan didapat oleh seorang santri manakala telah mencapai puncak keikhlasan dalam mengabdikan diri di pesantren, juga kepada guru (kiai/ ustad).

Berbicara Kemandirian Pesantren dapat kita lihat jejak sejarahnya, dimana pesantren-pesantren kuno tidak mengandalkan bantuan pemerintah, kaum santri dalam mewujudkan cintanya mengorbankan dengan suka rela harta, tenaga bahkan nyawa dalam memajukan lembaga pesantren.

Adapun peran pemerintah saat ini dengan menerbitkan UU Pesantren dan peraturan turunannya, adalah sebuah dorongan yang bersifat stimulan agar dunia pesantren lebih modernis dan sesuai perkembangan zaman, sehingga diharapkan lulusan pesantren bisa bersaing sesuai kebutuhan zaman, seperti yang dikatakan Mohammad Arqoun "Al Islamu Shohehu likulli Zaman Wa makan" Islam itu baik (sesuai) setiap waktu dan tempat. Begitu juga halnya pesantren di masa depan Shahih Likulli Zaman Wa makan.

Demikian tulisan ini saya tutup, semoga apa yang diperjuangkan kalangan santri menjadi Amal Jariyah, sehingga kita bisa memetik pahala dan mendapat ridlo Allah SWT kelak di hari Kebangkitan, dengan harapan bisa memasuki surga sebagai tempat paling indah. Amin

Sebagai alumni pesantren, saya selaku penulis tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Santri 22 Oktober 2021, semoga Santri semakin Jaya, makin Kece, da semakin  Maju, makin Cerdas dan yang terpenting semakin Ikhlas mengabdikan diri kepada Nusa dan Bangsa.

*Penulis Alumni Pesantren Nurul Burhan Badean Bondowoso, Nurul Islam 2 Putra Mangli Jember, STAIN Jember (UIN KHAS Jember), Aktif di Lembaga Bantuan Hukum Adhikara Pancasila Indonesia (LBH API), dan Tim Hukum Media Berita Nasional Zona Post Indonesia.

0 Comments: