Headlines
Loading...

 Oleh : Moh. Ghofur Hasbullah*

Dalam menjalankan sebuah ibadah, seseorang haruslah diwajibkan memiliki pengetahuan terkait ibadah yang dilaksanakan, semisal seperti menjalankan ibadah sholat, jikalau orang tersebut tidak faham terkait syarat rukun sholat, perkara yang membatalkan sholat, maka akibatnya akan fatal, yaitu tidak diterima ibadah tersebut. Begitu urgennya sebuah pengetahuan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Mencari pengetahuan di wajibkan bagi tiap-tiap muslim laki dan perempuan, mulai dari buaian ibu hingga akhir hayatnya”

Imam al-Zarnuji dalam karyanya “Ta’limul Muta’allim”, mengomentari hadits di atas terkait kewajiban skala prioritas dan alternatif, beliau mengatkan bahwa yang utama adalah ilmu (pengetahuan) tentang sesuatu yang berkaitan dengan masalah ubudiah (seperti puasa, sholat dll). Sedang utamanya perbuatan ialah konsisten menjalankan ibadah tersebut.

Memahami perihal tata cara ibadah merupakan kewajiban individu seorang muslim, hal ini di sebabkan karena maqbul dan mardudnya amaliah seseorang terikat dengan pengetahuan tentang praktek ibadah itu sendiri. Bagaimana jadinya jika seseorang muslim tidak memahami syarat dan rukunnya sholat, puasa, zakat, jual beli, akad hutang piutang, simpan pinjam dan berbagai masalah fiqhiyah lainnya.

Tertuang dalam bait matan zubad halaman tiga,

“Tiap manusia yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak dan tidak berguna”

Ini konteksnya ibadah sholat, puasa , haji. Bagaimana jika semacam transaksi ? Kita akan mendapati praktek-praktek ilegal bilamana tidak mengetahui hukum kelolanya berdasarkan agama, dampaknya adalah transaksi haram yang akan terjadi.

Kemudian, dampak kebodohan akan meluas bilamana seseorang diklaim orang shaleh di tempatnya, apalagi sudah dianggap tokoh panutan bagi masyarakat sekitar, karena ucapan yang ia keluarkan akan didengar masyarakat, sementara ia sendiri notabenenya orang awam.

Bencana Sebuah Agama

Dikisahkan  bahwasannya ada dua orang ulama yang berdebat tentang mana yang lebih buruk antara orang shaleh yang bodoh dan orang alim yang fasiq. Karena tidak adanya hujjah penguat antara keduanya akhirnya dua ulama tersebut mencari data fakta di lapangan dengan menemui seseorang yang cenderung suka ibadah namun miskin akan pengetahuan agama.

Bertemulah kedua ulama tersebut dengan sosok kriteria yang mereka cari, di amatilah perilaku orang tersebut hingga malam hari. Dan benar adanya, secara dhahir orang tersebut sangat shaleh, siang ia gunakan ibadah di masjid, sholat fardlu dan sunnah, i’tikaf hingga malam hari, sepulangnya masih lanjut sholat malam. Dari balik rumahnya, dua ulama tadi memergokinya, setelah di rasa sudah selesai ibadahnya, dengan nada pelan tapi jelas, salah satu ulama tadi berkata pada orang tersebut:

”Wahai Fulan, aku adalah tuhanmu, karena melihat ibadahmu yang luar biasa, maka mulai sekarang, aku membebaskanmu dari tanggungan ibadah”.

Sontak ada rasa gembira di hati si abid yang bodoh tersebut, ia menganggap ibadah yang selama ini di lakukan memang luar biasa, pantas tuhan mendatanginya dan memberikan garansi bebas ibadah, kebodohannya mengantarkan dia ke jurang kesesatan, ia tidak cukup memiliki pengetahuan agama, kesalehan tanpa pengetahuan agama, membuat dia buta tentang siapa itu Khaliq dan siapa itu makhluk.

Setelah selesai melihat hasil dari contoh ahli ibadah yang bodoh, kini giliran mencari sosok orang alim namun fasiq. Agak lama dua ulama tadi mencari sosok tersebut, akhirnya bertemulah dengan seseorang yang masyhur kefasiqannya, akan tetapi memiliki pengetahuan tentang agama. Mendekatlah salah satu dari kedua ulama pada orang tadi yang saat itu dalam keadaan mabuk, sembari berkata :

”Wahai Fulan, aku adalah tuhanmu, apakah kamu tidak malu berbuat seperti ini di hadapan tuhanmu ?”.

Mendengar apa yang diucapkan oleh seseorang disampingnya, seketika si fasiq tadi mengambil pedang untuk menghardik sang ulama, dia mengetahui bahwa yang bicara barusan bukanlah tuhan, melainkan manusia. “Tuhan tidak mungkin berbicara seperti ini” pikir si alim yang fasiq.

Melihat orang fasiq mengeluarkan pedangnya, kagetlah dua ulama tadi dan bergegas meninggalkan si fasiq yang dalam keadaan emosi. Akhirnya, bisa di putuskan bahwa di antara orang alim yang fasiq dan orang bodoh rajin ibadah dampak buruk yang parah ialah mereka orang bodoh yang nampak sholeh. (Kisah di atas penulis kutip dari ceramah KH. Baha'uddin Nur Salim )

Fenomena seperti kisah di atas saat ini banyak terjadi, mereka banyak menampakkan citra keshalehannya, tetapi miskin akan ilmu agama, ironisnya terkadang mereka adalah golongan yang dianggap tokoh masyarakat setempat, ia akan dijadikan potret bagi khalayak umum, tetapi, melihat fenomena yang kontras dengan syariat, dia tidak cukup memiliki pemahaman agama untuk merubahnya.

Taruhlah sebagaimana kasus Lia Eden, Ahmad Mushoddaq, dan Mirza Ghulam Ahmad. Mereka semua adalah sederetan nama manusia yang dangkal ilmu agama, tetapi memiliki komunitas, tanpa ada beban mengaku menjadi nabi.

Catatan akhir dari tulisan ini, sebagai bentuk intropeksi bersama, penulis kutipkan perkataan sayyidina Ali ibnu Abi Thalib, beliau berkata :” Yang mengacaukan saya itu dua orang yaitu, orang alim yang fasiq (rajin maksiat) dan orang bodoh yang khusyuk”.

Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Khalifah keempat ini, Imam Zarnuji mengatakan dalam syairnya,

“Kerusakan besar bagi orang pintar yang fasiq, (dan) lebih besar kerusakannya bagi orang bodoh yang rajin ibadah”

*Penulis : Alumnus PP. Lirboyo - Kediri tahun 2012.

Aktif sebagai pengajar Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren Darul Fikri, Pondok Pesantren Nurul Dhalam Kecamatan Wringin Bondowoso, dan sebagai pengusaha di bidang kerajinan “Tirai Bambu”.

0 Comments: