Headlines
Loading...

KETIKA TAKDIR DALAM GENGGAMAN

By: Andi El Husainy 

Bismillah, Alhamdulillah Was Syukru Lillah.

Puji Syukur kehadirat Ilahi Robbi yang telah mempertemukan saya dengan penulis muda berbakat asal Bondowoso ini. Dialah Muhammad Nurul Yaqin. Pemuda tampan dan imut ini telah menarik saya dalam lingkaran literasi. Padahal saya tahunya hanya terasi. Enak dimakan kalau sudah menjadi sambal. Hahahah. Hadeehh...

Ngomongin karya Yaqin, di usia yang sangat muda ini ternyata dia telah menghasilkan banyak karya buku. Baik sajak, puisi, motivasi, cerpen, novel, dan lainnya. Terhitung sejak tahun 2017 sampai sekarang, terlahir 8 karya buku dari tangan manisnya. Keren. Sungguh keren. Coba perhatikan. Tahun 2018, Dia menerbitkan tiga buku kumpulan puisi: Merpati Pengantar Hati; Curahan Rindu Sang Hamba; dan Merekam Jejak Luka. Setahun tiga karya buku itu keren loh. Hebat loh. Bravo dan Mabruk.

Selanjutnya di tahun 2019, dia menerbitkan kumpulan puisi lagi yang berjudul "Mengukir Rindu Atas Nama-Nya". Tahun 2020, terbit kumpulan cerpennya "MENGGENGGAM TAKDIR". Di tahun yang sama, terbit juga buku "Kausa Hati". Lalu kumpulan sajaknya "Adalah Cinta" dan "Sajak Dari Pojok Surau" terbit di tahun 2021. Tahun ini juga akan segera terbit novelnya yang berjudul "Ikhtiyar Cinta", saat ini masih dalam proses cetak. Kita tunggu saja kelahirannya.

Itu karya Solonya. Belum lagi beberapa cerpen yang dimuat dalam Antologi bersama kawan-kawannya. Ada sembilan buku Antologi kumpulan cerpen yang lahir dari komunitas menulis yang dirinya menjadi Founder. Dua di antaranya mendapatkan kata pengantar dari dua Novelis senior yang karya-karyanya luar biasa. Beliau adalah Kang mas Gus Taufiqurrahman Al Azizy  (Antologi cerpen Jika Indah Kenang, Jika pahit Buang & Rata-Rata Rasa) dan Kiai Aguk Irawan (Antologi cerpen Melepasmu dengan Indah). Saya rasa itu bentuk penghormatan yang luar biasa mendapat pengantar hebat dari novelis hebat.

Sampai di sini, kita mengetahui sepak terjang pergulatan Yaqin dalam dunia literasi. Saya rasa, kegemaran membaca yang Istiqomah telah menghasilkan buah karya yang indah. Melalui itu, Yaqin cukup kaya akan khazanah kisah dan referensi keilmuan yang kemudian dituangkan dalam karya bukunya. Hal itulah yang membuatnya sangat produktif dalam menghasilkan karya. Profil seperti ini mestinya menjadi contoh dan cambuk bagi kawula muda untuk menghidupkan dan melanjutkan tugas para penulis yang sudah sepuh. Di tangan pemuda seperti Yaqin inilah literasi bangsa ini InsyaAllah akan kembali berjaya. Semoga.

Perkenalan saya dengan Yaqin baru beberapa bulan yang lalu. Melalui komunitas Nubar (Nulis Bareng) kami dipertemukan. Keakraban pun terjalin dengan baik. Minggu yang lalu, Yaqin kirim kepada saya buah karya buku kumpulan cerpennya "Menggenggam Takdir". Saya ucapkan terima kasih. Yaqin ingin saya meriview buku tersebut. Saya ucapkan InsyaAllah. Sebab saya sadar betul. Saya bukan siapa-siapa dibanding dirinya. Bahkan di usia yang menjelang senja ini, satu pun karya buku belum ada yang terlahir dalam rahim pena saya. Sungguh ironi memang. Mungkin takdir telah menggenggam saya terlalu kuat, sehingga saya sangat sulit melepaskannya. Wallahu A'lam. Atas dasar itu, sebetulnya saya enggan mereview, mungkin juga sebab malu. Tapi karena ikatan persaudaraan, maka saya mencoba mereviewnya. Semoga Yaqin dan pembaca setianya senang hatinya.

TEMA TAKDIR

Buku MENGGENGGAM TAKDIR ini adalah buku ke-6 karya Yaqin yang berisi 25 cerpen. Buku ini mengingatkan saya pada dua buku yang pernah saya baca saat kuliah. (1) Buku Antologi cerpen "Ketika Duka Tersenyum" yang disusun oleh Asma Nadia, dkk. Berisi 12 cerpen yang nuansa takdirnya sangat kuat. (2) Buku karya Buya Hamka yang berjudul "Di Dalam Lembah Kehidupan" yang terbit tahun 1976 oleh penerbit Bulan Bintang dan diterbitkan ulang oleh Gema Insani Press pada tahun 2017, yang juga berisi kisah tangisan pilu, kesedihan yang tak berujung, dan hati serta perasaan tersayat yang di alami para tokohnya.

Tema takdir dalam dunia sastra memang bukan hal baru. Ada sekian buku puisi, prosa, cerpen, dan novel yang mengangkat tema itu. Sebut saja misalnya buku "Perempuan yang Memesan Takdir" karya W. Sanavero, berisi album prosa yang menyingkap sisi lain perempuan yang tengah menjalani takdirnya masing-masing. Para tokoh di dalamnya mempunyai sudut pandang dalam memaknai cinta, kenangan, pernikahan, persahabatan, ujian dan cobaan, bahkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Atau novel "Memeluk Takdir" karya Nurul Miresi, berkisah tentang sosok Wafa dan Mentari yang memutuskan untuk melupakan masa lalu dan menjalani kehidupan masing-masing. Sebab pergulatan takdir yang tak berhenti terus menghampiri mereka berdua dan mempermainkan kisah cintanya.

Ada juga Kumcer "Menulis Takdir" karya Luna Clarish, di mana para tokohnya menjalani hidup layaknya wayang yang di gerakkan oleh dalangnya. Hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa dan terkesan nilai kepasrahan yang lebih ditonjolkan dari pada ihtiyar guna mengubah takdirnya.

Saya rasa ketiga buku di atas cukup menjadi cermin dalam menikmati tema takdir yang diangkat oleh Yaqin dalam Kumcernya.

JUDUL BUKU

Semula saya menduga, judul dalam cover buku ini adalah salah satu judul cerpennya, sebagaimana buku-buku kumcer lainnya. Ternyata tidak. Tidak ada cerpen berjudul Menggenggam Takdir dalam buku ini. Lalu  bagaimana? Nah, kemungkinannya adalah tema besar yang diangkat dalam Kumcer ini tentang takdir. Yaqin hendak mengajarkan pembacanya untuk menarik benang merah dari semua cerpen yang disajikannya. Bahwa peristiwa duka maupun suka yang dialami para tokohnya tidak lepas dari Takdir Ilahi. Kalau sudah demikian, tak ada kata lain selain memeluk takdir itu sendiri dengan penuh kepasrahan. Begitulah gambaran umumnya tentang buku Kumcer ini.

ISI CERITA

Kumcer yang ditulis Yaqin ini sebenarnya diilhami oleh fenomena kehidupan kita sehari-hari, sehingga terasa nyata dan relevan. Oleh sebab itu, jangan heran jika Anda merasakan kesederhanaan dalam alur cerita dan sesekali dibuat terpukau saat membacanya. Meski diambil dari kisah yang sederhana dan mudah ditemui dalam kehidupan, atas kelihaian penulis yang mampu meracik sedemikian rupa, membuat kumcer ini berhasil disajikan dengan cukup menarik.

Supaya lebih mudah, akan saya bagi secara garis besar isi Kumcer ini menjadi dua bagian sesuai dengan ujian dan cobaan yang menimpa para tokohnya.

(1). Cobaan Fisik. Di bagian ini, semua tokoh yang ditampilkan memiliki keterbatasan fisik. Seperti kisah Andrian yang tuli. Kisah Irwan yang buta. Kisah Anam yang bisu. Dan kisah Arga penderita kusta yang berakhir tragis.

(2). Cobaan Rasa/Cinta. Di bagian ini, semua tokoh yang ditampilkan mengalami pergulatan batin akibat cinta atau sedih kehilangan seseorang yang dicintainya. Seperti kisah sedih Ali yang merantau untuk mengais rupiah, namun ketika kembali pulang ke rumah, Emaknya sudah tiada. Ada juga kisah sedih Imran yang selalu dibully temannya. Hanya karena bekerja di salon kecantikan ia dikatakan bencong oleh temanya.

GENRE & GAYA

Dari 25 cerpen yang tersaji dalam buku ini, Genre Romance yang lebih mendominasi. Di dalam romance, biasanya ada unsur keseharian yang belakangan disebut Slice of life (Penggalan Kehidupan). Konon, genre ini memiliki ciri khas di mana diksi-diksi yang tertulis di dalamnya terbaca begitu puitis dan romantis sehingga mampu menciptakan suasana heart-warming yang mengakibatkan pembacanya menikmati keindahannya.

Secara garis besar, elemen dasar genre ini adalah satu kisah asmara sebagai pusat seluruh cerita dengan ending yang memuaskan dan bahagia bagi para protagonisnya yang berperan penuh dalam alur cerita, atau justru ending tragis yang diterima, entah itu berupa perpisahan atau kematian.

Beberapa cerpen yang masuk dalam genre ini antara lain; Beri Aku Waktu Sekali lagi; Biarkan Luka Berbicara; Mawaddah yang Tertunda; Di Antara Dua Bidadari; Tuhan Ihlaskan Hatiku Jika Dia Bukan Milikku; Aku ingin menjadi mimpi indahmu; Izinkan Aku menjadi Lelaki Sepertiga Malammu; Karena Aku cacat, Kau memilih pergi.

Terkait GAYA, Yaqin memilih Gaya Realisme dalam menulis cerpennya. Sebuah aliran cerpen yang menampilkan sebuah kejadian apa adanya. Semua diceritakan seperti kejadian di alam nyata dengan bumbu imajinasi penulisnya. Aliran ini banyak mengungkap kisah-kisah kehidupan orang awam (kebanyakan). Setiap peristiwa sehari-hari yang luput dari orang, lalu ditulis dan diceritakan dengan piawai sehingga enak dinikmati pembacanya. Persis seperti cerpen-cerpen yang ditulis oleh pakde Ahmad Tohari. Nuansa kesederhanaan dan keseharian sangat kental di dalamnya.

PLOT TWIST & KONFLIK

Dalam buku ini, Yaqin telah merancang cukup bagus agar setiap ceritanya memiliki twist alias kejutan. Ia mengibaratkan pembaca seperti tengah menonton film misteri atau suspens. Maka, lewat bukunya, ia mengajak pembaca seolah sedang menonton 25 film drama dengan setiap cerita yang meninggalkan efek kejut. Cukup bagus. Namun di sini pula konsep buku ini mengandung kelemahannya. Kebanyakan efek kejut memang berhasil mengecoh, tapi beberapa lagi sudah bisa ditebak saat membaca setengah cerita.

Konflik yang dihidangkan dalam kumcer ini juga sebetulnya sangat ringan, namun diceritakan dengan gaya bertutur yang apik. Saya rasa, setiap cerpen yang tersaji mempunyai magnet tersendiri. Sangat menginspirasi dan menggugah jiwa-jiwa yang lemah.

ADANYA QUOTES

Salah satu yang membuat beda Kumcer ini dengan lainnya adalah adanya Quotes yang ditulis di akhir cerpen. Yaqin telah menyuguhkan semacam hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari setiap cerpennya, sehingga pembaca bisa tafakkur saat itu juga. Saya rasa ini bagian penting dari dakwah yang dilakukan oleh Yaqin.

Coba simak beberapa Quotes di bawah ini;

"Kadang kala bahagia yang telah kita rancang sedemikian rupa harus berakhir pada satu titik bernama duka"

(Cerpen Mawaddah yang Tertunda)

"Kehilangan adalah bentuk lain dari kasih sayang Allah. Maka dari itu tak ada cara yang lebih indah selain tabah"  (Cerpen Allah Maha Sayang)

"Obat sebuah rindu hanyalah pertemuan. Dan rindu paling berat adalah rindu pada yang telah tiada" (Cerpen Menghitung Bintang)

"Kadang cinta memberimu air mata. Kadang pula memberimu siksa. Namun percayalah, di balik semua itu akan ada bahagia yang akan menantimu di akhir cerita" (Cerpen Aku ingin menjadi mimpi indahmu)

"Tak ada satu pun manusia yang luput dari takdir. Allah telah menetapkannya saat ruh itu mulai ditiup dan sebelum ia lahir ke dunia. Maka tak ada salahnya ikhlas kau genggam, meski di hidupmu terjemput iradah paling duka sekalipun" (Cerpen Ya Allah, beri Tabah hidupku)

WABA'DU, Membaca Kumcer ini serasa bercermin. Terlihat nyata, tapi tidak benar-benar ada. Sebab realita kehidupan hanyalah cerminan dari apa yang dominan di pikiran Anda yang seharusnya dijadikan sebagai spirit dan motivasi untuk lebih kuat dan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Perihal takdir, itu bukan suatu hal yang ditentang, tapi diterima dengan tangan terbuka dan menggenggam eratnya.

________

IDENTITAS BUKU

Judul : Menggenggam Takdir

Penulis : Muhammad Nurul Yaqin

Penerbit : CV. Razka Pustaka

Tahun terbit : 2021 (Mei/Cetakan ke-4)

Jumlah halaman : 272 halaman

_______

Andi Elhusainy

Gunungsari, 14 September 2021

0 Comments: