Headlines
Loading...
NALAR AWAM PEDESAAN DAN KOMPLEKSITAS IHWAL COVID-19

NALAR AWAM PEDESAAN DAN KOMPLEKSITAS IHWAL COVID-19

Oleh: Akmad Ghasi Pathollah, Dosen Pendidikan Agama Islam STIT Togo Ambarsari Bondowoso

Covid-19 dengan segala hal-ihwal turunannya adalah sebuah kompleksitas. Artinya, sebagai sebuah realitas, ia tidak bisa secara sederhana dipahami dan dibicarakan, bahkan setiap upaya pembicaraan dan pemahaman tentangnya rawan terjatuh dalam klaim yang reduktif, terutama bila subjek yang berbicara adalah non-saintis atau orang yang berbicara bukan berdasar fakta, data dan analisis sains.

Selain itu, klaim reduktif oleh subjek non-saintis tentang covid-19 yang berdasar pada sebuah info parsial yang dianggap utuh ini jamak terjadi di tengah masyarakat awam pedesaan. Hal ini yang menjadikan covid-19 menjadi problem kompleks dalam penanganannya serta pencegahan penyebarannya, bahkan dalam teknis pelaksanaanya sesuai protokol kesehatan yang ketat, kemudian ujung-ujungnya adalah kompromi dengan situasi dan kondisi.

Dalam konteks orang awam pedesaan, mereka memiliki ruang dan jumlah dengan tingkat yang signifikan sebagai objek terdampak pandemi ini. Sehingga bila tak tertangani, maka potensi penyebaran dan peningkatan korban covid-19 akan terjadi.

Masalahnya adalah benturan nalar antara saintis sebagai pengawal kontrol pandemi ini dengan orang awam. Bagi saintis, covid-19 secara eksistensial adalah fenomena riil, sedang bagi orang awam pedesaan, covid-19 bukanlah fenomena riil, bahkan ada yang menyatakan itu adalah permainan politik, kepentingan pemerintah dan lain sebagainya. Ini tentu karena efek nalar awam yang bekerja di balik pernyataan bernada penyangkalan tersebut.

Bagaimana kita menyikapi hal tersebut ? tentu salah satu solusinya adalah dengan komunikasi terbuka yang intens serta melibatkan subjek otoritatif dengan tujuan menyamakan persepsi dalam membaca ihwal covid-19 sebagai sebuah problem bersama dan harus diselesaikan secara bersama pula. Hal ini hari ini belum menemukan momentum titik temu antar persepsi yang berbeda bahkan berlawanan. Sebab utamanya adalah nalar yang memunculkan persepsi itu yakni nalar saintis dan nalar awam.

Nalar saintis menjadi pijakan gerak saintis dalam berpikir dan mengambil sikap berbasis pada data dan analisis ilmiah. Sedangkan nalar awam adalah dasar pijakan non-saintis dalam berpikir dan mengambil sikap yang seringkali spekulatif. Nalar saintis biasanya dasar dari para akademisi dan praktisi sains sedang nalar awam menjadi dasar bagi masyarakat desa secara umum yang tidak mengenyam dunia akademik.

Bagi orang awam pedesaan, hidup adalah sebuah perihal yang sederhana baik model, cara serta kebutuhan yang terkait dengannya. Hal ini menjadikan mereka terbiasa hidup realistis dengan paradigma yang tidak kompleks. Mereka tidak mau rumit dengan tetek-bengek ilmu pengetahuan baik praktis apalagi teoritis.

Bagi mereka, hidup selesai dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan meski dalam standar yang minimal. Namun selain dari itu, kondisi keberagamaan orang awam pedesaan masih kental dan kuat sehingga mereka cenderung irasional dalam bersikap karena bagi mereka, agama adalah dasar pijak utama dan rasio mereka bergerak mengikutinya. Dalam keberagamaan ini, mereka tidak bisa diajak kompromi sebab ini sudah bersifat ideologis.

Dalam konteks serbuan covid-19 beserta info kematian yang menyertainya, agama tetap tidak goyah sebagai pijakan mereka. Hal ini tentu karena piranti nalar mereka belum mengakomodir analisis sains sebagai bagian dari beragama.

Maksudnya, agama dengan ajarannya tidak sepenuhnya mengenyampingkan posisi akal dan nalar, bahkan kalau ditelaah lebih dalam, nalar atau akal adalah sebuah instrumen penting untuk menangkap pesan-pesan agama secara lebih substansial dan pro terhadap nilai-nilai kemanusiaan. 

Namun bagi mereka, agama adalah agama,  sains adalah sains, keduanya jelas berbeda. Hal ini yang pada gilirannya memandu mereka mengambil simpul pemahaman bahwa virus covid-19 dan kematian adalah takdir Allah sepenuhnya, tanpa membaca gerak kausalitas yang bekerja di alam semesta dan bisa dibaca dengan nalar sains.     

Secara lebih teknis, covid-19 beserta serbuan berita horor yang menyertainya diakui memang membawa pada keletihan sosial, sebuah kondisi dimana orang-orang tidak tau harus mengambil sikap dan kepada apa/siapa harus bersandar. 

Bagi orang awam pedesaan, Allah Swt adalah sebuah dzat yang riil, bahkan bisa lebih nyata dari serbuan covid-19. Pada-Nya, mereka menemukan tempat bersandar di tengah ambiguitas serta parsialitas info yang tersebar dan belum adanya penjelasan sains tentang solusi menghadapinya, kecuali bertahan dan mencari selamat dari pandemi ini. Meski pada dasarnya, rasionalitas mereka tetap bekerja dalam mencari selamat, tapi tetap dalam porsi yang tak bisa melampaui posisi agama.                   

Sebagai jalan alternatif, orang awam pedesaan dengan nalar agamis yang kadangkala berseberangan dengan nalar saintis yang hari ini sebagai satu-satunya pemegang otoritas yang relatif benar dalam menafsirkan kenyataan covid-19 harus mengambil jalan kompromi lewat perbaikan paradigma berpikir. 

Artinya, sebuah perubahan posisi dan cara pandang bahwa sains dengan agama bukanlah dua hal yang berseberangan. Keduanya memiliki peran yang sama-sama signifikan dalam menyikapi pandemi covid-19. Ada saat kita menggunakan agama sebagai pijakan sebagaimana ada saat yang lain, kita menggunakan sains sebagai pijakan, tanpa mengabaikan antar satu dengan yang lainnya.

Hal ini tentu bukan hanya tugas sebagian orang, tapi ini adalah tugas kolektif yang harus diupayakan bersama. Semuanya mesti harus terlibat terutama orang yang mumpuni dalam dua hal tersebut, seorang saintis yang agamis. Atau lebih jauh, hari ini dengan pandemi ini, maka sudah saatnya semua masyarakat menghapus batas dikotomis antara sains dan agama. Artinya tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan sehingga semuanya memiliki instrumen yang proporsional dalam menyikapi persoalan baik yang ada dalam ranah agama atau dalam ranah sains.

Editor: Ali Wafi, M.Pd.I

       

0 Comments: