Headlines
Loading...
Konstruksi Khidmah Sebagai Khittah Asasi Dalam Ber-NU

Konstruksi Khidmah Sebagai Khittah Asasi Dalam Ber-NU

Penulis: Achmad Ghazi Fathullah *

Ber-NU hari ini tentu berbeda dengan ber-NU zaman Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, RKH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Wahhab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri. Pasalnya, rentang historis yang jauh berbeda, kondisi sosial-masyarakat yang berbeda serta yang paling utama, subjek sejarah yang berbeda. Secara subjek historis, meski tetap istiqamah dengan khidmah dan berjuang untuk ummat sebagai jantung ber-jam’iyah, tapi tentu intensitas dan kualitas nilai serta kedalaman penghayatannya tidak akan pernah sama. Persis karena memang tak ada alat ukur objektif yang bisa mengukur aspek ini secara inter-personal, apalagi dalam rentang sejarah yang telah terlampau beberapa generasi. Namun yang terlihat dalam fenomena ber-NU hari ini, meski penyimpulan ini terkesan reduktif dan tidak ada tendensi universalia-nya – khidmah dan berjuang untuk ummat, keduanya bergeser dari posisi sentral ke periferal, dari substansial ke artifisial.

Di satu sisi sekarang, seringkali kita mendengarkan indoktrinasi rutin bahwa berkecimpung aktif dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama’ adalah laku khidmah, berjuang dan/atau nurok pakon ghuru. Perihal ini memang menemukan relevansi dengan wasiat beberapa kyai yang menjadi rujukan laku dan tindak para santrinya; KH. Zaini Mun’im mengatakan ‘tang santre mun tak berjuang e masyarakat, engko’ tak ridha’; RKH. As’ad Syamsul Arifin mengatakan ‘tang santre se tak berjuang e NU, jhek ngarep akompol bik engko’ e akherat’. Kedua pernyataan ini, terutama yang terakhir menegaskan bahwa NU adalah wadah untuk an-sich berkhidmah dan berjuang, tanpa embel-embel yang lain.

Adapun analisis laku dan diksi khidmah dan berjuang generasi salaf kita, relasi khidmah dan berjuang di-break-down dalam level struktur semantik-aksi, keduanya adalah dua term yang berkelindan dan saling melingkupi. Setiap laku khidmah mengandaikan spirit berjuang dan begitu pun sebaliknya. Namun ada nilai dasar yang menjadi fundamen aktualitas khidmah dan berjuang sebagai sebuah realitas yang utuh, yakni ikhlas. Pasalnya, gerak laku manusia untuk melayani kebutuhan manusia yang lain khususnya dalam dimensi sosial-keislaman, tentunya memiliki hasrat ‘beribadah’ kepada Allah SWT sebagai motif pendorong utamanya. Di titik ini, Ikhlas adalah bentuk purifikasi hati dan niat dari segala sesuatu yang tidak relevan dengannya.     

Pada dasarnya, Ikhlas sebagai inner-power atau pendorong utama laku manusia, ia adalah gerak hati terfokus hanya kepada Allah SWT sebagai ulimate reality. Ibnu Ajibah dalam Iqadzul Himam fi Syarhil al-Hikam menjelaskan bahwa Ikhlas adalah Ifradu al-Qalbi li Wajhillah, terfokusnya hati hanya kepada Allah SWT. Lebih lanjut, Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa Ikhlas adalah ruh setiap amal, tanpanya maka amal tidak bernilai secara mutlak. Hanya perlu dicatat bahwa Ikhlas bukan barang yang taken-for-granted atau jadi secara instan. Ia lebih tepat sebagai proses dan definisi di atas adalah puncak prosesnya.

Selain perspektif literatur di atas, ada definisi teknis terhadap ikhlas dalam relasinya dengan subjek, yakni ‘selesai dengan dirinya’. Parafrasa teknis ini sebetulnya untuk menjadikan ikhlas tampak lebih realistis dan tidak mengawang-awang. Rasionalisasinya, orang yang telah selesai dengan dirinya – atau dalam bahasa yang lebih rumit, ‘aku’nya – maka ia akan memberi kepada orang lain tanpa berharap timbal-baliknya. Hal ini sepadan dengan orang yang kentut dan dia tak akan peduli kemana bahkan jejaknya sekalipun. Jadi, ikhlas itu identik dengan orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.

Selain itu, definisi teknis yang lain tentang ikhlas adalah totalitas. Artinya, melakukan sesuatu secara total tanpa pertimbangan imbalan dan balas budi. Hal ini sebetulnya masih menyinggung sebagian makna definisi sebelumnya, hanya sisi totalitas memiliki makna melakukan sesuatu secara maksimal atau mengerjakan sesuatu dengan pekerjaan terbaik yang bisa diupayakan. Dengan demikian, tentunya totalitas menjadi salah satu kriteria ontologis dalam perwujudan ikhlas secara riil.

Dalam kaitannya dengan realitas ber-NU hari ini, rasanya ada sebuah gap antara kondisi ideal dan kondisi real, antara apa yang diharapkan dan apa yang terjadi. Dalam konteks ini, segitiga Ikhlas, Khidmah dan Berjuang diposisikan sebagai bangunan ideal dalam dasar berjam’iyah dan itu sudah tidak terhitung bilangannya, terucap dan terkatakan sebagai bentuk internalisasi ruhul jihad dalam setiap elemen. Hal ini tak lain, mengupayakan sebuah keikhlasan secara total tanpa ada ‘anak syubhat’ yang bercampur dengan itu adalah hal yang sangat sulit, namun tidak mustahil untuk diupayakan. 

Mewujudkan kondisi ideal seperti yang diteladani oleh para kyai-guru adalah sebuah hal yang kompleks sekaligus dilematis. Karena kondisi internal generasi hari ini tidak banyak yang ditempa seperti mereka. Generasi hari ini yang terus-menerus diserang dan dijejali paham kapitalisme dengan materialisme sebagai paradigmanya. Akibatnya, seringkali bertindak dan bersikap dalam pertimbangan untung-rugi. Apalagi ber-NU dengan orientasi khidmah dan berjuang sekaligus dituntut untuk berkorban sebagai turunannya, maka sedikit-banyak masih berpikir mode pasar. Namun bagaimana pun, Ruhul Ikhlas wal Khidmah wal jihad, harus secara berkesinambungan dibangun

Selain itu, sebagai sebuah jam’iyah – dalam makna leksikalnya adalah kolektifitas -, gerak ber-NU dalam berkhidmah dan berjuang adalah kerja kolektif, bukan kerja  fragmentaris. Friksi internal dalam sebuah jam’iyah adalah sebuah keniscayaan, tapi tak masalah kalau tetap dalam koridor kepentingan khidmah dan berjuang, bukan demi/untuk kepentingan individu dan golongan tertentu. Hal ini selaras dengan pernyataan Fawaizul Umam, bahwa di zaman ini, orang baik itu banyak, hanya problemnya mereka tidak bekerjasama, bahkan mereka saling konflik satu-sama lain. Kalau hal ini yang terjadi, maka bukan jam’iyah yang akan terwujud, tapi iftiraq ; terbentuknya firqah-firqah.     

Sebagai penutup, upaya untuk mewujudkan kondisi ideal dalam berkecimpung aktif di Nahdlatul Ulama adalah sebuah proses yang harus diupayakan secara berkesinambungan. Bahkan KH. Hasan Abdul Wafi menyatakan bahwa berkhidmah dan berjuang di NU itu sudah sama dengan ber-Thariqah. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ber-NU itu identik dengan bertasawwuf secara sosial-organisatoris. Dan akhirnya, tulisan ini hanya coretan-coretan reflektif, bahkan mungkin spekulatif, terbuka untuk kritik dan konfrontasi, namun ‘ala kulli hal, semoga bisa manfaat. 

* Anggota Devisi Media dan IT Lakpesdam PCNU Bondowoso

0 Comments: