Headlines
Loading...
NU, Islam dan Indonesia (Sebuah Refleksi)

NU, Islam dan Indonesia (Sebuah Refleksi)

NU, Islam dan Indonesia (Sebuah Refleksi)

Oleh: Ustad Luthfi Khoiron

Tahun ini, Nahdlatul Ulama mencapai usianya ke 95 berdasarkan perhitungan kalender Masehi. NU menjelang satu abad. Rentang waktu nan panjang ini, meniscayakan sebuah refleksi penting, sebagai kesyukuran kita atas anugerah organisasi para ulama ini.

Pertama, NU adalah otoritas keagamaan, sebuah representasi dari Islam akomodasionis; corak Islam yang menjunjung tinggi budaya. Karena agama tidak berdiri dan hadir di ruang kosong. Ia mengisi kehidupan manusia yang sarat kultur budaya. Memberlakukan nilai keagamaan hanya bermodal teks justru menodai elastisitas agama itu sendiri.  Lihatlah, betapa meski shalat itu wajib, justru pemberlakuannya setelah periode Madinah, Imam Syafi'i berani merombak 10 prinsip pokok hukum, setelah kepindahannya dari Baghdad (di bawah kekuasaan Abbasiyah) ke Mesir yang secara adat istiadat memiliki budaya lokal berbeda. Islam tak sekaku persepsi kaum tekstual yang bersifat dogmatis. Islam adalah wujud keberserahdirian kepada kuasa Tuhan berbasis kesadaran, bukan doktrinal.

Nahdlatul Ulama hadir untuk menolak cara-cara kasar dalam menginjeksi agama. Sebab agama dalam bentuk teks adalah teologi umum, yang masih perlu dibreakdown dalam pandangan khusus, kemudian disebut sebagai ideologi. Islam ideologis jauh lebih matang dan harum dari Islam teologis semata. Islam ideologis hanya mampu ditampilkan oleh representasi kenabian, yaitu otoritas keagamaan. Sebab harus diakui, agama bukan properti pribadi yang bisa ditafsirkan secara personal. Harus ada institusi khusus yang membidangi. Kehadiran NU bukan hasil  bimsalabim dari wirid-wirid para kyai, namun lebih merupakan hasil ijtihad kolegial keulamaan secara temurun, yang pondasinya dibangun oleh Walisongo.

Kedua, sebagai otoritas keagamaan, sudah selayaknya kita tidak bisa melihat NU hanya dari aspek organisatoris semata. Kita mesti mencandranya dalam wujud esensial yang lebih luhur. Sebab, jika NU hanya dipahami sebagai organisasi, maka ia hanya setara dan memiliki rivalitas dengan ormas Islam lain, seperti Muhammadiyah dan semisalnya. Jika NU hanya dimaknai sebagai sebuah gerakan pemikiran, maka ia tak lebih unggul dari gerakan pemikiran Islam transnasional lain. Jika NU hanya diyakini sebagai pandangan kemadzhaban, selamanya ia sibuk berkonfrontasi dengan pandangan sektarian lain yang membedakannya. Jika NU dimaknai sebagai sebuah ideologi berbasis teologi semata, maka nilai-nilai suci ajarannya hanya akan menjadi koleksi knowleadge  dan lisensi-lisensi akuisisi penafsiran teks agama.

Lalu, bagaimana mestinya ?

Pahamilah NU sebagai Islam itu sendiri.

Maknailah NU sebagai tangga spiritual menuju Nabi.

Yakinilah NU sebagai mediasi koneksitas dengan sang Rabbi.

Maknailah NU sebagai firman dan sabda langit dalam wujud konkret.

Oleh karena itu, menjadi NU berarti keluar dari absurditas pandangan personal dan kerelaan bekerja nyata secara komunal. Menjadi NU berarti kesediaan memberi kepatuhan mutlak kepada otoritas. Menjadi NU berarti mengimplementasikan tauhid, yakni hanya Allah pemilik otoritas, sehingga kepatuhan kepada otoritas keulamaan adalah bagian dari ketaatan kepada-Nya. Menjadi NU berarti kesiapsediaan memberikan sense of belonging, sense of becoming, serta sense of being. Bahwa kita merasa memiliki NU yang menjadi manifestasi agama ini, merasa menjadi bagian darinya, bahkan kita adalah NU itu sendiri. Tanpa kesadaran ini, NU seperti mobil yang berjalan tanpa rem. Perjalannya terhenti karena masuk jurang, atau kehabisan bensin.

Ketiga, ini yang paling penting, NU adalah bagian dari penyiapan kejayaan Islam di masa depan. Apa indikasinya? Sebagaimana kita yakini, bahwa Islam memiliki visi panjang, sebagai utopia. Sebab Kanjeng Nabi Muhammad saw sudah menubuwatkannya, pasti terjadi. Problemnya, konstelasi global menempatkan Islam sebagai agama marginal, setidaknya jika melihat fakta kekinian di Timur Tengah, sebagai negara mayoritas muslim. Diperburuk dengan perilaku memalukan beberapa pemimpin dunia Arab yang menggadaikan idealisme dan patriotisme mereka dengan menjalin kemesraan dengan negara musuh.

Justru yang tampak di permukaan, setidaknya dipemberitaan media-media mainstream adalah munculnya faksi-faksi Islam yang berhaluan radikal. Gejala itu menyebar luas, hingga sampai ke negeri muslim paling adem, Indonesia. Ya, negeri kita sudah kesusupan barbarisme Islamic State. Fenomena bom bunuh diri, upaya-upaya menentang konstitusi, serta berbagai gerakan bercorak Islam garis keras, hingga garis mlungker sudah seperti parasit dan berevolusi tak terkendali.

Terlepas hal itu adalah agenda musuh-musuh untuk mempersonanongratakan Islam, dari dalam faktanya umat Islam Indonesia sudah banyak yang menjadi korban brainwashing mereka. Meski yang menjadi korban genosida ideologi ini adalah orang-orang yang libur logika dan ejakulasi penafsiran.

Apa yang terjadi selanjutnya? Penyiapan kejayaan akhir zaman yang telah ditata sejak zaman para wali di bumi Pertiwi ini, harus menghadapi kegenitan membahayakan anak bangsanya sendiri. Lagi-lagi NU mesti jadi bumper menyelesaikan berbagai konflik, yang tentu menguras energi. Sementara, kesadaran untuk bekerja secara kolektif dan terukur masih menjadi PR ekstra yang belum tuntas di internal kaderisasi. Dari semua telisik fenomenologi ini, kita hanya satu pilihan, “kita berlari mengikuti derap kaki kuda para muassis, atau berdiam diri, memuja gadget agar terlihat eksis”.

Ladang jihad kita terhampar luas. Sayang sekali, justru kita terganggu di tengah keluasan itu. Akhir kata, pupuklah sense of belonging, sense of becoming, serta sense of being hingga ia berbuah tindakan praktis. Tanpa itu, NU hanya sebuah atribusi, bukan aksi. Wallahu a'lam.

Editor: Ali Wafi

1 komentar