Headlines
Loading...

LAILATUL QADAR

Oleh: KH. Muhammad Hasyim Sonhaji, M. HI.



Umat Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengerjakan rukun Islam yakni dengan bersyahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan pergi haji ke Makkah jika mampu. Namun, pernahkah kita berfikir bagaimana cara ibadah umat nabi terdahulu? Salah satu contoh ibadah puasa yang dilakukan umat terdahulu, sebagaimana firman Allah SWT:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Bentuk puasa umat terdahulu sedikit berbeda dengan puasa yang disyariatkan kepada umat Nabi Muhammad saw. Misalnya Nabi Nuh as. berpuasa selama enam bulan lamanya, dimulai ketika menaiki kapalnya hingga berlayar, sebagai bentuk syukur kepada Allah swt. Begitu juga puasa yang Allah syariatkan kepada Nabi Daud as. dan umatnya, mereka diwajibkan puasa seumur hidup setiap dua hari sekali berselang-seling. Dalam hadits ditegaskan:  

  أَفْضَلُ الصَّوْمِ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا  

Artinya: “Sebaik-bainya puasa adalah puasa saudaraku, Dawud a.s. Ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari” (H.R. Ahmad). 

Siti Maryam seorang wanita mulia, yang tak lain adalah ibunda Nabi Isa as. melakukan puasa  dengan tidak berbicara kepada manusia. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya: “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”. (QS. Maryam: 26).

Berdasarkan konteks ini kita sebagai ummat Nabi Muhammad saw.  hendaknya bersyukur, karena Allah swt hanya mewajibkan berpuasa selama satu bulan saja dalam setahun, yaitu di bulan suci Ramadhan. Belum lagi kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. yang umurnya relatif singkat, umumnya 60-70 tahun. Umur kita tidak seperti umat terdahulu yang memiliki usia ratusan tahun bahkan hampir seribu tahun, misalnya pada zaman Nabi Musa as, ada seorang ahli ibadah yang telah beribadah secara terus-menerus selama 350 tahun. Umur Nabi Nuh as. adalah 950 tahun, ini pendapat Qatadah yang disebutkan dalam “Tafsir Qur’an ‘Adzim” Ibnu Katsir: 6/268.

Tentunya jika ditinjau dari segi umur, ummat terdahulu lebih lama ibadahnya dibandingkan kita. Namun dengan umur yang singkat, kita sebagai ummat Nabi Muhammad saw tidak kalah nilai ibadahnya, karena Allah swt memberikan keistimewaan berupa malam lailatul qadar. Hal ini menjadi bahan renungan untuk kita syukuri bersama, bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh dengan kemuliaan, malam yang lebih mulia dari seribu bulan (alfu syahrin).

Menurut perhitungan Syekh Abdul Halim Mahmud, seribu bulan (alfu syahrin) setara dengan 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia. Beliau menuliskan:

 والألف شهر هي ثلاث وثمانون سنة وأربعة أشهر, وذلك عادة عمر الإنسان, فهي خير من عمر الإنسان, من عمر كل إنسان: من عمر كل إنسان في الماضي وفي المستقبل, أي أنها خير من الدهر

Artinya: “Seribu bulan adalah delapan puluh tiga tahun empat bulan. Itu merupakan standar umum umur manusia. Lailatul qadr (alfu syahrin) lebih baik dari umur manusia; dari umur setiap manusia, baik umur manusia di masa lalu maupun umur manusia di masa mendatang. Intinya, lailatul qadar lebih baik dari (usia) zaman.” (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadhan, h. 21)

Itu artinya lailatul qadar lebih mulia dan utama dari seluruh umur manusia, baik umur manusia di zaman dahulu, maupun umur zaman sekarang. Syekh Abdul Halim Mahmud bahkan mengatakan, “annahâ khair minad dahr”  (lailatul qadar lebih baik dari usia zaman). Sungguh sangat beruntung kalau setiap tahun di bulan ramadhan kita berjumpa dan mendapatkan lailatul qadar.

Begitulah cara Allah swt. mengistimewakan lailatul qadar di bulan suci ramadhan ini. Walaupun pada hakikatnya tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar, kecuali Allah swt. Maka betapa spesialnya malam Lailatul Qadar, Sampai Imam Ibnu Qayyim berkata;

لـو كانـت ليلـة القـدر بالسنـة ليلـة واحـدة لقمـت السنـة حتى أدركهـا فمـا بالـك بعشـر ليـال

Artinya: “Jika seandainya Lailatul Qadar itu harus dicari sepanjang tahun, maka niscaya aku akan menghidupkan seluruh (malam) dalam satu tahun sehingga aku bisa mendapatkan nya. Lalu bagaimana pendapatmu apabila malam Lailatul Qadar terjadi hanya pada 10 hari (terakhir di bulan Ramadhan).” (Bada’iul Fawaid: 55)

Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhan, antara lain dengan memperbanyak sedekah, membaca al-Quran, dan i’tikaf. Hal ini karena keutamaan waktu di bulan Ramadhan, dengan adanya pelipatgandaan pahala dan dimudahkannya beramal kebaikan di bulan Ramadhan.

1.    Pengertian Lailatul Qadar

Dalam kitab Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ ash-Shaghir disebutkan pengertian al-qadar sebagai berikut:

(ليلة القدر) أي القضاء والحكم بالأمور سميت به لعظم منزلتها وقدرها وشرفها ولما تكتبه فيها الملائكة من الأقدار التي تكون منها إلى السنة القابلة (فيض القدير - ج 2/ ص. 199)

Artinya: “al-Qadar adalah keputusan hukum terhadap sesuatu, karena besarnya kedudukan dan kemuliaan malam tersebut, dan karena di malam tersebut Malaikat menulis takdir-takdir yang terjadi di malam tersebut sampai 1 tahun ke depan”. (Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ ash-Shaghir 2/199)

Jelaslah, bahwa lailatul qadar adalah malam ketetapan penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang memiliki keistimewaan sendiri dibanding dengan malam-malam yang selainnya. Dan apabila malam itu digunakan untuk ibadah kepada Allah swt, maka ia akan mendapatkan pahala berlibat ganda satu berbanding seribu amal kebajikan (ibadah) yang dilakukan di selain malam lailatul qadar.

2.    Sejarah Lailatul Qadar

عَنْ عَلِيِّ بْنِ عُرْوَةَ قال: ذَكَرَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا أربعةً من بني إسرائيل، عَبَدُوْا اللهَ ثمانيْنَ عَامًا، لَمْ يَعْصُوهُ طرْفَةَ عَيْنٍ: فذَكَرَ أيوبَ، وزكريا، وحزقِيْلَ بْنَ العَجُوزِ، ويوُشَعَ بنَ نُوْنٍ. قَالَ : فعَجَبَ أصْحَابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم من ذلك، فأَتَاهُ جبريلُ فقال: يا محمد، عَجِبَتْ أمَّتُكَ من عِبَادَةِ هَؤُلَاء النَّفَرِ ثَمانين سنةً، لَمْ يَعْصُوْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فقد أنزل الله خيرا من ذلك. فقرأ عليه: (إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر ليلة القدر خير من ألف شهر) هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبْتَ أَنْتَ وأمَّتُكَ. فقال: فسُرَّ بذلك رسولُ الله صلى الله عليه وسلم والناسُ معه (تفسير إبن كثير - ج 8/ ص. 448)

Artinya: Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. suatu hari menceritakan 4 orang dari Bani Israil yang menyembah Allah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap matapun, yaitu Ayub, Zakariya, Hizqil bin ‘Ajuz dan Yusya’ bin Nun. Maka para sahabat mengagumi hal itu. Kemudian datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad saw. dan berkata: “Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap matapun. Kemudian Allah menurunkan yang lebih baik dari ibadahnya orang Israil tersebut”. Kemudian Jibril membacakan kepada Nabi: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (al-Qadar: 1-3) Ini lebih utama dari pada yang dikagumimu dan umatmu”. Kemudian Rasulullah dan sahabat merasa senang dengan hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir 8/443) 

3.    Keistimewaan Lailatul Qadar

Dalam surat Al-Qadar ayat 3 disebutkan bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan (khairun min alfi syahrin):

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: “Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih dari seribu bulan” (QS. Al-Qadar: 3).

Ulama berbeda pendapat terkait maksud “lebih baik dari seribu bulan” dalam ayat ini. Ibnu Bathal misalnya, dalam Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan sebagai berikut:

فإنها خير من ألف شهر، يعنى بذلك أن عملاً فيها بما يرضى الله ويحبه من صلاة ودعاء وشبهه خير من عمل فى ألف شهر ليس فيها ليلة القدر

Artinya: “Maksud dari (lebih baik dari seribu bulan) ialah mengerjakan amalan yang diridhai dan disukai Allah swt. di malam tersebut, seperti shalat, doa, dan sejenisnya, lebih utama dibandingkan beramal selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qadhar di dalamnya.”

Diantara kemuliaan-kemuliaan lain di malam tersebut adalah Allah swt. mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah swt. berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Ad-Dukhan: 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya, Allah swt. berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadar: 3-5)

Kendati ulama berbeda pendapat, namun pada hakikatnya semuanya sepakat bahwa lailatul qadar adalah malam mulia yang sangat baik digunakan untuk beribadah.

4.    Beberapa pendapat tentang Lailatul Qadar

a.    10 hari terakhir

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah ra. ia berkata:

ﺗَﺤَﺮَّﻭْﺍ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ

Artinya: “Carilah Lailatul Qadr itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan”. (Muttafaqun alaihi dari Aisyah ra.)

Yang jelas, tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya lailatul qadar secara pasti kecuali Allah swt. Tampaknya, Allah swt. sengaja merahasiakannya agar manusia senantiasa selalu beribadah di bulan Ramadhan. Rasulullah saw mengisyaratkan menjelang akhir Ramadhan, biasanya lebih fokus beribadah, terutama sepuluh malam terakhir. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Aisyah ra:

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻌَﺸْﺮُ ﺷَﺪَّ ﻣِﺌْﺰَﺭَﻩُ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ ﻟَﻴْﻠَﻪُ ، ﻭَﺃَﻳْﻘَﻆَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ (ﻫﺬﺍ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)

Artinya: “Nabi Muhammad saw ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan memilih fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah”. (HR Al-Bukhari).

Berdasarkan hadits ini, dapat disimpulkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang terbaik untuk beribadah. Sebagian ulama mengatakan, Rasulullah saw meningkatkan kesungguhannya beribadah pada sepuluh malam terakhir dibandingkan malam sebelumnya.

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah ra:

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍَﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﺃَﻥَّ ﺍَﻟﻨَّﺒِﻲَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻌْﺘَﻜِﻒُ ﺍَﻟْﻌَﺸْﺮَ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮَ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ,ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻮَﻓَّﺎﻩُ ﺍَﻟﻠَّﻪُ , ﺛُﻢَّ ﺍﻋْﺘَﻜَﻒَ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻪُ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ (ﻣُﺘَّﻔَﻖٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ)

Artinya: Dari Aisyah ra. ia berkata:“bahwasanya Nabi Muhammad saw biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat”. (Muttafaqun alaihi dari Aisyah ra.)

b.    Malam-malam Ganjil
Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:

ﺗَﺤَﺮَّﻭْﺍ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِﻓِﻲ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

Artinya: “Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah ra)

c.     7 malam terakhir

ﺃَﺭَﻯ ﺭُﺅْﻳَﺎﻛُﻢْ ﻗَﺪْ ﺗَﻮَﺍﻃَﺄَﺕْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ‏‎ ‎ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﺤَﺮِّﻳﻬَﺎ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺤَﺮَّﻫَﺎ ﻓِﻲ‎ ‎ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ

Artinya: “Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa lailatul qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir.” (Muttafaqun alaihi dari Ibnu Umar ra.)

Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:

ﺍﻟْﺘَﻤِﺴُﻮﻫَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔَ‏‎ ‎ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻓَﺈِﻥْ ﺿَﻌُﻒَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﻋَﺠَﺰَ ﻓَﻠَﺎ‎ ‎ﻳُﻐْﻠَﺒَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﺍﻟْﺒَﻮَﺍﻗِﻲ

Artinya: “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar ra.)

d.    Malam 25, 27 dan 29
Dalam hadits Abu Dzar disebutkan:

ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻡَ ﺑِﻬِﻢْ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ، ﻭَﺧَﻤْﺲٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ، ﻭَﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ، ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺩَﻋَﺎ ﺃَﻫْﻠَﻪُ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀَﻩُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ﺧَﺎﺻَّﺔً

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak salat keluarga dan istri-istrinya pada malam dua puluh tujuh (27).”

Dalam kitab Shahih Bukhari, ditegaskan:

‏‏‏‏‏عَنْ أَنَس ‏‏‏‏‏‏قَالَ‏‏‏ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ، ‏‏‏‏‏‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يُخْبِرُ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، ‏‏‏‏‏‏فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، ‏‏‏‏‏‏فَقَالَ إِنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، ‏‏‏‏‏‏وَإِنَّهُ تَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ، ‏‏‏‏‏‏فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمُ، ‏‏‏‏‏‏الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ (صحيح البخارى - ج 1/ ص. 95)

Artinya: Dari Anas bin Malik berkata: telah mengabarkan kepadaku Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah saw. keluar untuk menjelaskan tentang lailatul qadar, lalu ada dua orang muslimin saling berdebat. Maka Nabi Muhammad saw bersabda: "Aku datang untuk menjelaskan lailatul qadar kepada kalian, namun fulan dan fulan saling berdebat sehingga akhirnya diangkat (lailatul qadar), dan semoga menjadi lebih baik buat kalian, maka itu intailah (lailatul qadar) itu pada hari yang ketujuh, enam dan lima". (Shahih Bukhari: 1/95)

e.    Malam 27

Sahabat Ubay bin Ka’b ra. menegaskan

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﻷﻋﻠﻤﻬﺎ ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻋﻠﻤﻲ ﻫﻲ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻘﻴﺎﻣﻬﺎ ﻫﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ

Artinya: Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (lailatul qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah saw memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

Untuk lebih jelasnya, berikut dijelaskan berdasarkan pendapat para ulama:

1)    Menurut Imam Al-Ghazali

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺇﻧﻬﺎ ﺗﻌﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ. ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻭﻟﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺣﺪ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺭﺑﻌﺎﺀ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ, ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ, ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﻼﺛﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ, ﺃﻭ ﺍﻟﺨﻤﻴﺲ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ, ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺒﺖ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺛﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ.

Artinya: “Al-Ghazali dan yang lainnya berkata bahwa lailatul qadar dapat diketahui dari hari permulaan bulan Ramadhan. Jika hari pertama Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau hari Rabu, maka lailatul qadar jatuh pada malam kedua puluh sembilan. Jika hari pertama Ramadhan jatuh pada hari Senin, maka lailatul qadar jatuh pada malam kedua puluh satu. Jika hari pertama Ramadhan jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka lailatul qadar jatuh pada malam kedua puluh tujuh. Jika hari pertama Ramadhan jatuh pada hari kamis, maka lailatul qadar jatuh pada malam kedua puluh lima. Jika hari pertama Ramadhan jatuh pada hari Sabtu, maka lailatul qadar jatuh pada malam kedua puluh tiga”.

 

 

2)    Pendapat Abi Hasan al-Syadzili dalam kitab Hasyiyah al-Shawi ‘alal Jalalain Juz 4 halaman 337 cetakan Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah :

ﻓﻌﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻭﻟﻪ ﺍﻷﺣﺪ ﻓﻠﻴﻠﺔ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ، ﺃﻭ ﺍﻹﺛﻨﻴﻦ ﻓﺈﺣﺪﻱ ﻭﻋﺸﺮﻱ ﺃﻭ ﺍﻟﺜﻼﺛﺎﺀ ﻓﺴﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﺍﻷﺭﺑﻌﺎﺀ ﻓﺘﺴﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﺨﻤﻴﺲ ﻓﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﺴﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺃﻭﺍﻟﺴﺒﺖ ﻓﺜﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ

Artinya: “Dari Abi al-Hasan al-Syadzili: Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qadar malam 29, Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qadar malam 21, Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qadar malam 27, Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 19, Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qadar malam 25, Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17, Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23”.

Syaikh Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyuby dalam kitabnya Risalah Nawadirul Hikayah menerangkan, bahwa Allah swt. memang sengaja menyamarkan beberapa perkara bagi manusia. Salah satunya adalah malam seribu bulan, yakni lailatul qadar. Ia menafsiri:

وأخفى ليلة القدر في رمضان ليجبهد الناس في إحياء لياله رجاء ان يصادفوها 

Artinya: “Dan Allah merahasiakan lailatul qadar di dalam bulan ramadhan agar manusia bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam-malam ramadhan. Dengan harapan, manusia dapat menjumpai lailatul qadar tersebut”.

Perlu diperhatikan bahwa rumusan turunnya lailatul qadar sebagaimana dijelaskan sebelumnya, hanyalah sebuah prediksi dan bukan rumusan yang mutlak. Sesungguhnya Allah swt. menyembunyaikan pengetahuan tentang kapan kepastian terjadinya lailatul qadar kepada para hamba-Nya adalah karena kasih sayang-Nya, agar para hamba semakin memperbanyak amalannya dalam rangka mencari lailatul qadar di malam yang penuh kemuliaan dengan shalat, dzikir, dan doa.

Sehingga akan semakin bertambahlah kedekatan mereka kepada Allah swt dan bertambah pula pahala yang akan diraihnya. Allah swt juga tidak menampakkan pengetahuan tentang kapan kepastian terjadinya lailatul qadar, sebagai bentuk ujian bagi hamba-Nya, agar tampak jelas siapa yang bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam mencari lailatul qadar, dan siapa yang bermalas-malasan dan seenaknya saja.

Marilah kita bersungguh-sungguh dalam setiap malam Ramadhan. Dengan harapan suatu malam nanti, saat kita beribadah, bertepatan dengan malam yang penuh dengan kemuliaan malam yang lebih mulia dari seribu bulan. 

     Aamiin ya rabbal ‘alamin.

    Editor: Ali Wafi


1 komentar