Headlines
Loading...

 

Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui sebelumnya, bagaimana dan kapan iman itu akan datang memasuki hati dan jiwa kita. Adakalanya, seseorang secara mendadak tanpa ada persiapan mental, tahu-tahu dia menemukan keimanannya. Ada pula orang yang semula bermaksud melawan keimanannya, tetapi justru pada akhirnya dia malah tertarik dan kemudian mempercayainya. Dan ada lagi yang lain, semula dia memang sudah ada kemauan dan kesiapan diri untuk menerima iman tapi pada akhirnya ia menjadi orang yang tak beriman.

Kehadiran iman memang misteri, walaupun demikian kalau iman sudah hadir dalam sanubari kita, maka menjadi tanggung jawab kita untuk tetap terus menjaga keimanan itu. Karena iman merupakan anugerah tertinggi Tuhan, maka sepantasnyalah manusia yang beriman dalam hidupnya untuk selalu mengedepankan kemuliaan. Iman adalah jenis tanaman unggul, sementara kemuliaan adalah bunga mekar dalam rerimbunan tanaman unggul.

Petunjuk (hidayah) dan bimbingan kebenaran (taufiq) diberikan oleh Allah swt kepada semua makhluk-Nya baik itu manusia maupun jenis binatang lain. Dalam keyakinan apapun, manusia selalu membutuhkan petunjuk dan bimbingan dari Tuhan agar manusia mampu mengambil pilihan yang tepat dalam menghadapi berbagai macam masalah dan kebutuhan hidupnya. Manusia memang makhluk berakal yang luar biasa, tetapi manusia tetap dalam  keterbatasannya, dan Allah Tuhan Maha Pencipta sudah memberitahukan hal itu kepada manusia melalui wahyu yang diberikan kepada para Rasul dan para Nabi, hanya saja manusia seringkali bersikap sombong, angkuh dan tidak mau tahu.

Perbedaan kualitas hidayah dan taufiq bisa mengalami sebuah perubahan dan pasang surut sesuai tingkat respon manusia itu sendiri terhadap hidayah yang diperolehnya. Tuhanlah yang menciptakan semuanya, yang menyempurnakan ciptaan-Nya dan yang menentukan kemampuan masing-masing. Allah swt. berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. al-Insan: 3)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-Ankabut: 69)

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Artinya: Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. al-An’am: 125).

Iman, merupakan suatu hidayah istimewa yang tidak dapat direkayasa oleh siapapun, termasuk para Nabi maupun Rasul, petunjuk atau hidayah ini langsung sebagai anugerah Tuhan kepada orang yang dikehendaki dan disayangi-Nya. Dalam Al-Qur’an ada kalimat yang menyatakan:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ  

Artinya: … Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.(QS. Asy-Syura:52). Maksud bahwa Nabi Muhammad saw memberi petunjuk disini adalah petunjuk wahyu yang diturunkan kepadanya dan tidak berarti beliau dapat memberikan “hidayah iman”, sebab di dalam ayat yang lain ditegaskan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang siap menerima petunjuk. (QS. Al-Qasas:56)

Petunjuk disini adalah “petunjuk iman atau petunjuk taufiq”. Ayat yang serupa dengan ayat dalam surat al-Qasas ayat 56 tersebut terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 272 “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya”.

Menurut para ahli tafsir Al-Qur’an, surat al-Qasas ayat 56 ini merupakan penegasan dari Allah swt. terhadap baginda Nabi Muhammad saw yang begitu prihatin terhadap pamandanya (Abu Tholib) yang sampai akhir hayatnya tidak bersedia menyatakan iman dan mengakui agama Islam, padahal selama itu Abu Tholib sangat menyayangi Nabi Muhammad saw dan melindunginya dari ancaman-ancaman orang kafir Quraisy.

Abu Hurairah ra. mengatakan, bahwa ketika Abu Tholib mendekati kewafatannya, Nabi Muhammad saw mengunjunginya, kemudian beliau mengharap kepada pamandanya: “Wahai paman ucapkanlah syahadat (Asyhadu an-laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna muhammad Rasulullah), maka dengan syahadat itu saya akan menjadi saksi besok hari kiamat, bahwa paman adalah seorang mu’min dan muslim”. Maka Abu Tholib menjawab “Seandainya saya tidak khawatir orang-orang Quraisy akan mencela dan mengatakan, bahwa saya terpaksa mengucapkan syahadat itu karena takut menghadapi kematian, pastilah saya mengucapkannya kepadamu”. Selesai menyatakan ucapannya itu Abu Tholib meninggal, tidak lama kemudian baginda Nabi Muhammad saw menerima wahyu berupa surat al-Qasas ayat 56 tersebut.

Disini kehendak Allah swt. berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Nabi Muhammad Saw dan tentu ada hikmah dan rahasia lain dibalik itu semua. Paling tidak kita menyadari betapa mahalnya dan betapa sulitnya hidup seseorang di dunia ini mendapat “hidayah iman atau hidayah taufiq”. Hidayah iman merupakan anugerah dan nikmat besar dari Allah Swt. sebagaimana yang difirmankan dalam surat al-Hujuraat ayat 17;

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan memberikan petunjuk keimanan kepadamu, jika kamu adalah orang-orang yang benar". (QS. al-Hujuraat: 17)

Menurut para ulama ushuluddin (ahli tentang ajaran Islam yang paling fundamental), terutama yang termasuk golongan salaf, bahwa iman itu mencakup tiga hal dimensi, yakni kepercayaan total di dalam hati (tashdiq bil-qalbi), ucapan dengan kata atau pengakuan dengan lisan (qaul bil-lisan), serta amal perbuatan dengan anggota badan (‘amal bil-jawarikh).

Dari sini kita yang sudah terlahir dalam keluarga muslim, perlu intropeksi diri dan bersyukur, karena iman yang mahal dan tidak mudah diperoleh ini (kecuali yang mendapat belas kasih dari Allah Swt) harus dijaga dan dipelihara keberadaannya di dalam jiwa setiap orang mu’min dan diusahakan secara serius bagaimana iman tersebut tetap segar, sehat dan tumbuh berkembang dengan subur, serta selamat dari penyakit-penyakit yang mengganggunya, agar iman tersebut dapat memberikan hasil yang optimal bagi kehidupan kita, terutama kehidupan rohani kita.

Tidak ada iman manusia yang selalu stabil dan dalam kondisi yang terus menerus baik. Pada hakikatnya manusia mempunyai hawa nafsu, maka pasti akan ada dimana iman dalam kondisi lemah. Namun, orang yang benar-benar beriman tentunya tahu atau sadar bahwa imannya sedang menurun dan ia akan mencari jalan untuk selalu memperbaiki imannya. Keimanan seperti halnya tumbuhan yang dapat layu, segar dan berkembang. Keimanan tergantung bagaimana kita memupuknya. Untuk itu iman mesti harus dipupuk. Pupuk keimanan itu adalah ilmu pengetahuan, penghayatan, dan pengalaman taqwa kepada Allah Swt.

Imam Al-Ghozali, seorang ulama dan pemikir besar Islam menggambarkan kondisi iman itu “sebagai bibit unggul” yang tumbuh di media hati para mu’min yang perlu mendapatkan siraman yang cukup dan teratur, agar dapat dijamin kesegarannya. Selain itu juga memerlukan pemupukan agar dapat tumbuh dengan subur dan cepat berkembang, disamping itu tanaman iman ini harus memperoleh proteksi (perlindungan dan Penjagaan) dari berbagai hama yang dapat merusaknya bahkan membinasakannya. Apabila semua itu dilakukan dengan baik, maka tanaman tersebut akan memberikan hasil yang memuaskan dan menguntungkan. Dan yang digunakan untuk menyirami iman tersebut adalah “ibadah-ibadah wajib”, sedangkan yang menjadi pupuknya adalah “ibadah-ibadah sunnah (an-nawafil)”, sedangkan yang menjadi hama atau penyakitnya iman adalah “perbuatan-perbuatan maksiat”.

Mayoritas ‘ulama Islam berpendapat bahwa iman seseorang itu secara dinamik dapat bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan amal-amal ketaatan dan berkurang karena perbuatan maksiat. Pendapat ini didasarkan pada firman-firman Allah Swt. seperti dalam QS. al-Anfaal ayat 2, at-Taubah ayat 124, ‘ali-Imron ayat 173 dan al-Ahzaab ayat 22. Dalam hadis Nabi Muhammad Saw juga dinyatakan, sebagaimana Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman meriwayatkan dari Abu Hurairah beliau berkata:                                                       الإِيمَانُ يَزْدَادُ وَيَنْقُصُ

Artinya: “Keimanan itu bertambah dan berkurang”.

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa,

الإيمان يزيد وينقص، يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

Artinya: “Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah karena amal ketaatan dan berkurang karena maksiat”.

Begitu juga dalam Kitab “Lubabul Hadits” ditegaskan:

وَقَدْ أَجْمَعَ السَّلَفُ عَلَى أَنَّ الْإِيْمَانَ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ، وَزِيَادَتُهُ بِالطَّاعَاتِ وَنُقْصَانُهُ بِالْمَعَاصِي

Artinya: “Para Salaf telah ijmak bahwa Iman itu bisa bertambah dan bisa juga berkurang, bertambahnya iman itu sebab tho’at, adapun berkurangnya iman itu karena sebab maksiyat”.

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: الْإِيْمَانُ لَا يَزِيْدُ وَلَا يَنْقُصُ وَلِكنْ لَهُ حَدٌّ

Artinya; Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Iman itu tidak boleh berlebih dan tidak boleh juga berkurang, akan tetapi ia harus tetap ada pada batasannya”.

Suatu ketika para sahabat sedang duduk-duduk di masjid, tiba-tiba Nabi Muhammad Saw datang dan lansung bertanya “Betulkah kalian ini beriman ? Betul wahai Rasulullah. Apa yang menjadi indikasi keimananmu itu ? Saat itu sahabat Umar bin Khattab (yang termasuk diantara mereka) menjawab: “Kami selalu bersyukur dengan adanya kemakmuran (ar-rokho’). Kami selalu bersabar dengan terjadinya cobaan (al-bala’). Kami selalu ridho menerima keputusan Allah (al-qodlo’)”. Nabi Muhammad Saw seketika itu menyatakan: Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, kalian benar-benar orang yang beriman”.

Apabila iman itu sudah mapan pada jiwa seseorang, maka akan terjadi perubahan pada sikap dan perilaku orang tersebut dan menjadi tanda atau indikasi keimanannya. Iman yang sudah meresap dalam jiwa seseorang atau sekelompok orang, akan memberi pengaruh perubahan dalam wawasan, sikap dan perilakunya dan besar kecilnya perubahan tersebut akan tergantung pada kuat atau lemahnya iman yang dimilikinya.

  Keimanan memang merupakan sebuah misteri, yang kerap kali sulit difahami, bagaimana ia mudah datang dan pergi pada diri seseorang, tapi ia juga begitu sulit memasuki hati orang yang sepertinya sudah siap menerimanya. Maha Suci Allah yang mengendalikan hati dan jiwa hamba-hamba-Nya. Ya Allah Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). Aamiin ya robbal ‘alamin.


Penulis: Ali Wafi, M.Pd.I


0 Comments: